1.
Kebutuan Air Tanamana
Anggraeni (2013) menjelaskan bahwa kebutuhan air suatu tanaman dapat didefinisikan
sebagai “jumlah
air yang diperlukan untuk memenuhi kehilangan air melalui
evapotranspirasi (ET-tanaman) tanaman yang sehat, tumbuh pada sebidang lahan
yang luas dengan kondisi tanah yang tidak mempunyai kendala (kendala lengas
tanah dan kesuburan tanah) dan mencapai potensi produksi penuh pada kondisi
lingkungan tumbuh tertentu”.
Untuk
menghitung ET-tanaman direkomendasikan suatu prosedur tiga tahap, yaitu
a.
tanaman
referensi), yaitu “laju evapotranspirasi dari permukaan berumput luas setinggi
8-15 cm, rumput hijau yang tingginya seragam, tumbuh aktif, secara lengkap
menaungi permukaan tanah dan tidak kekurangan air”. Empat metode
yang dapat digunakan adalah Blaney-Criddle, Radiasi, Penman
dan Evaporasi Panci, dimodifikasi untuk menghitung ETo dengan
menggunakan data iklim harian selama periode 10 atau 30 hari.
b.
Pengaruh
karakteristik tanaman terhadap kebutuhan air tanaman diberikan oleh koefisien
tanaman (kc) yang menyatakan hubungan antara ETo dan ET tanaman
(ETtanaman = kc . ETo). Nilai-nilai kc beragam dengan jenis
tanaman, fase pertumbuhan tanaman, musim pertumbuhan, dan kondisi cuaca
yang ada.
c.
Pengaruh
kondisi lokal dan praktek pertanian terhadap kebutuhan air tanaman,
termasuk variasi lokal cuaca, tinggi tempat, ukuran petak lahan, adveksi
angin, ketersediaan lengas lahan, salinitas, metode irigasi dan kultivasi
tanaman.
1.1.
Faktor-Faktor Yang Menpengaruhi Kebutuhan Air Pada
Tanaman
Asdak
(2007) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan air
yaitu :
a.
Jenis, bentuk dan umur tanamana
Ø
Berdasarkan
kebutuhan air, umumnya ada tiga jenis tanaman, yaitu Jenis Suka Air, memerlukan air yang cukup banyak untuk dapat hidup dengan
baik, contohnya jenis Adiantum, Begonia, Calathea, Dracaena, Dieffenbachia,
Monstera, Peperomia serta jenis pakis-pakisan.
Ø
Jenis
menyukai air dalam jumlah sedang, memerlukan air yang cukup tapi tidak berlebih
untuk tumbuh dalam kondisi yang sehat, contohnya adalah Aglaonema, Anthurium,
Philodendron, dan lainnya.
Ø
Jenis
menyukai sedikit air, merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan baik
dalam keadaan sedikit air, contohnya berbagai jenis tanaman sukulen, kaktus,
Sansiviera, Chryptanthus dan lainnya.
b.
Lokasi
juga mempunyai andil dalam menentukan banyaknya air untuk penyiraman. Tanaman
dalam pot yang diletakkan di bawah naungan dengan yang langsung di bawah sinar
matahari akan mempunyai perbedaan kebutuhan air. Umumnya tanaman yang berada di
daerah naungan membutuhkan jumlah air yang relatif lebih sedikit dari pada
tanaman yang terkena sinar matahari langsung.
c.
Peletakan
tanaman pada sumber air membutuhkan air yang berbeda dengan yang diletakkan di
tengah lapangan terbuka. Peletakan di dekat sumber air merupakan jenis tanaman
yang menyukai kondisi air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Jenisnya pun
berbeda dengan tanaman yang tahan akan sinar matahari.
d.
Jenis Media Tanam
Media merupakan material yang
bersentuhan langsung dengan akar, bagian tanaman yang sangat penting untuk
penyerapan air dan unsur hara lainnya. Media tanaman yang umum digunakan adalah
tanah, humus, sekam, cocopeat, pasir malang, dan akar pakis. Masing-masing
mempunyai daya ikat air yang berbeda.
e.
Besar Kecilnya Pot
Terkait dengan
tingkat kelembaban media dalam pot. Pot kecil akan mempunyai tingkat kelembaban
yang lebih kecil jika dibandingkan dengan media pada pot yang besar. Tepai pot
besar mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan akar tanaman. Banyaknya ruang yang
tersedia dapat memberikan ruang yang cukup untuk bernafasnya akar.
f.
Musim
Dua musim utama di Indonesia, musim kering dan musim hujan, akan mempengaruhi penyiraman terhadap tanaman. Musim kering tanaman harus diperiksa apakah memerlukan penyiraman satu-dua hari sekali sedangkan musim hujan apakah harus disiram setiap hari atau tidak.
Dua musim utama di Indonesia, musim kering dan musim hujan, akan mempengaruhi penyiraman terhadap tanaman. Musim kering tanaman harus diperiksa apakah memerlukan penyiraman satu-dua hari sekali sedangkan musim hujan apakah harus disiram setiap hari atau tidak.
1.2. Gejala
Kelebihan dan Kekurangan Air
Asdak (2007) menjelaskan bahwa ada
beberapa gejala kelebihan dan kekurangan air pada tanaman.
a.
Pengecekan media tanam
Ø Jika
media terasa remah lepas, berarti media sedikit mengandung air
Ø Periksa
dengan membuat lubang sebesar ibu jari dengan kedalaman 1,5-3cm. Jika kering
maka kelembaban tanaman rendah dan tanaman perlu disiram.
b.
Gejala fisiologis tanaman
Ø Tanaman
layu dan daun tua coklat dan mengering, dicurigai tanaman kekurangan air.
Periksa media dan gejala lain apakah disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman
lainnya.
Ø Pinggiran
daun berwarna coklat dan kering untuk tanaman kekurangan air
Ø Jika
berbunga dan kurang air, maka bunga akan gugur dengan cepat.
Ø Jika
daun ujungnya coklat, kemungkinan besar kelebihan air.
Ø Dalam
media yang terlalu lembab, akar akan membusuk.
1.3. Kebutuhan
Air Irigasi
Sudjarwadi (2005) menjelaskan bahwa analisis kebutuhan air
irigasi merupakan salah satu tahap penting yang diperlukan dalam perencanaan
dan pengelolaan sistern irigasi. Kebutuhan air tanaman didefinisikan sebagai
jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman pada suatu periode untuk dapat tumbuh
dan produksi secara normal. Kebutuhan air nyata untuk areal usaha pertanian
meliputi evapotranspirasi (ET), sejumlah air yang dibutuhkan untuk
pengoperasian secara khusus seperti penyiapan lahan dan penggantian air, serta
kehilangan selama pemakaian. Sehingga kebutuhan air dapat dirumuskan sebagai
berikut :
KAI
= ET + KA + KK............................................................................... (1)
dengan,
KAI = Kebutuhan Air Irigasi
ET = Evapotranspirasi
KA = Kehilangan air
KK = Kebutuhan Khusus
Misalnya evapotranspirasi suatu tanaman pada suatu lahan
tertentu pada
suatu periode adalah 5 mm per hari,
kehilangan air ke bawah (perkolasi) adalah 2 mm per hari dan kebutuhan khusus
untuk penggantian lapis air adalah 3 mm perhari maka. kebutuhan air pada
periode tersebut dapat dihitung sebagai berikut
KAI = 5 + 2 + 3
KAI = 10 mm perhari
Untuk memenuhi kebutuhan air ingasi
terdapat dua sumber utama. yaitu
pernberian air irigasi (PAI) dan hujan
efektif (HE). Disamping itu terdapat sumber
lain yang dapat dimanfaatkan adalah
kelengasan yang ada di daerah perakaran
serta kontribusi air bawah permukaan.
Pemberian Air Irigasi dapat dipandang
sebagai kebutuhan air
dikurangi hujan efektif dan sumbangan air tanah.
PAI
= KAI - HE – KAT............................................................................ (2)
dengan,
PAI
= Pemberian air irigasi
KAI
= Kebutuhan air
HE =
Hujan efektif
KAT=
Kontribusi air tanah
1.4. Fase Kritis Kebutuhan Tanaman
1.4. Fase Kritis Kebutuhan Tanaman
fase kritis suatu tanaman yaitu pada fase pertumbuhan tunas
dan pertumbuhan vegetatif tanaman (sampai dengan umur 165 hari setelah tanam) (Campbell,
at al. 2003).
2. Air Sangat Penting Untuk Produksi Tanaman
karena
air merupakan komponen utama dalam
sel-sel untuk menyusun jaringan tanaman (70%
- 90%), pelarut dan medium reaksi
biokimia, medium transpor senyawa, memberikan turgor bagi sel, bahan baku
pembentuk klorofil dan menjaga suhu tanaman supaya konstan.
Dan
memiliki dampak pada hasil karena air sangat berpengaruh besar terhadap suatu
petumbuhan baik dari cara pengelolahan lahan smpai dengan pemanenan, dimana air
ini memilki dampak positif dan negatif bagi suatu pertumbuhan tanaman.
Sedangkan kecendrungan petani untuk mengairi air secara berlebihan dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti kapasitas
danau, rawa, dan reservoir buatan, permeabilitas tanah di bawah reservoir, karakteristik aliran
pada area tangkapan air, ketepatan waktu presipitasi dan rata-rata evaporasi
setempat. Semua faktor tersebut juga memengaruhi besarnya air yang menghilang
dari aliran permukaan.
Karena aktivitas manusia memiliki dampak
yang besar dan kadang-kadang menghancurkan faktor-faktor tersebut. manusia
sering kali meningkatkan kapasitas reservoir total dengan melakukan pembangunan
reservoir buatan, dan menguranginya dengan mengeringkan lahan basah. manusia
juga sering meningkakan kuantitas dan kecepatan aliran permukaan dengan
pembuatan sauran-saluran untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi.
Kuantitas total dari air yang tersedia pada suatu waktu
adalah hal yang penting. Sebagian manusia membutuhkan air pada saat-saat
tertentu saja. Misalnya petani membutuhkan banyak air ketika akan
menanam padi
dan membutuhkan lebih sedikit air ketika menanam palawija.
Untuk mensuplai petani dengan air, sistem air permukaan membutuhkan kapasitas
penyimpanan yang besar untuk mengumpulkan air sepanjang tahun dan melepaskannya
pada suatu waktu tertentu. Sedangkan penggunaan air lainnya membutuhkan air
sepanjang waktu, misalnya pembangkit listrik yang membutuhkan air untuk pendinginan,
atau pembangkit listrik
tenaga air. Untuk
mensuplainya, sistem perairan permukaan harus terisi ketika aliran arus
rata-rata lebih rendah dari kebutuhan pembangkit listrik.
Perairan permukaan alami dapat ditambahkan dengan mengambil
air permukaan dari area tangkapan hujan lainnya dengan kanal atau sistem
perpipaan. Dapat juga
ditambahkan secara buatan dengan cara lainnya, namun biasanya jumlahnya
diabaikan karena terlalu kecil.
3.
Jenis-Jenis Pemberian Air Pada Tanaman
Schwab (2003) menjelaskan bahwa ada
beberapa jenis pemberian air pada tanaman yaitu :
a. Pemberian Air Di Permukaan Tanah (Surface Irrigation)
Pemberian
air dipermukaan tanah meliputi penggenangan (Flooding),
biasanya dipersawahan, dan pemberian air melalui saluran-saluran (Furoow Irrigation) dan dalam barisan
tanaman (Curoogation Irrigation).
b. Pemberian Air Dibawah Permukaan Tanah (Sufsurface Irigation)
Pemberian
air dibawah permukaan tanah dilakukana dengan menggunakan pipa (Tiles) yang dibenamkan didalam
permukaan tanah. Pemberian air dipermukaan tanah dan dibawah permukaan tanah
disebut juga pengairan gravitasi, karena air dialirkan berdasarkan gayaberat
air.
c. Penyiraman (Spirinkle Irigation)
Pemberian
air dengan cara penyiraman mencakup oscillating
spirinkler dan rotary spirinkler semuanya
disebut juga overhead Irigation karena
air diberikan atau disiram dari atas seperti air hujan. Pemberian air dengan
penyiraman sangat efisien, pada tanah bertekstur kasar, efisiensi pemakaian air
dengan penyiraman dua kali lebih tinggi dari pemberian airpermukaan.
d. Irigasi Tetes (Drip or trickle irigation)
Pada
irigasi tetes, air diberikan pada kecepatan yang rendah disekitar tanaman
menggukan emiiter. Pada pemberian air dengan penyiraman dan irigasi tetes,
kedalam air pengairan dapat ditambahkan pestisida atau pupuk.
4.
Jenis-Jenis Pengairan Air Di Sawah
Sinaga
(2008) menjelaskan bahwa ada beberapa jenis-jenis pengairan disawah yaitu :
a.
Pengairan di atas tanah
b.
Pengairan di dalam
tanah (sub irrigation)
c.
Pengairan dengan penyemprotan (sprinkler
irrigation)
d.
Pengairan tetes (drip irrigation)
4.1. Jenis-Jenis
Air Di Bumi
Depkes
(2005) menjelaskan bahwa jenis-jenis air yang ada di bumi dibagi menjadi
beberapa macam yaitu :
4.1.1.
Air
Angkasai
Air
hujan merupakan penyupliman awan/uap air murni yang ketika turun melalui udara
akan melarutkan benda-benda yang terdapat diudara, gas(O2,CO3N2,
dan lain-lain), jasad-jasad renik dan debu.
4.1.2.
Air
Permukaan
Air
permukaan merupakan air yang mengalir dipermukaan bumi, air permukaan berupa
sungai dapat terjadi melalui dua cara yaitu berasal dari aliran permukaaan
bumi, misalnya dari air hujan yang merupakan penyupliman awan atau uap air
murni ketika turun dan melalui udara akan melarutkan benda-benda yang terdapat
didalam udara, lalu yang berasal dari aliran air tanah beberapa mata air dan
campuran keduanya.
4.1.3. Air Tanah
Permana
(2006) menjelaskan bahwa sebagian air hujan yang mencapai permukaan bumi akan
menyerap kepermukaan tanah, air hujan akan menembus beberapa lapisan tanah
yaitu :
Ø Lapisan tanah atas (Topsoil)
Pada
lapisan ini terjadi bakteria yang cukup banyak sambil melepaskan CO2
banyak-banyak. CO2 yang banyak ini akan bereaksi dengan air hujan
dengan menambah konsentrasi H2CO3 bila dalam lapisan ini
terdapat CACO3 (Batu kapur) maka akan terjadi reaksi CACO3 +
H2CO3 → Ca(HCO3)2.
Kalsium bikarbonat yang terbentuk ini akan larut dalam air.
Ø Lapisan tanah bawah (Subsoil)
Kegiatan
bakteriatidak seberapa banyak terjadi disini. Reaksi-reaksi yang terjadi pada
lapisan tanah atas terjadi juga disini tetapi tidak sebanyak pada laisan tanah
atas.
Ø Lapisan batu kapur
Pada
lapisan ini terdapat batu-batuan,diantaranya batu kapur (CaCO3). Air hujan yang sudah bereaksi asam karena
mengandung H2CO3 Iitu akan
bereaksi dengan batuan-batuan batu ini. Reaksi kimia ini terjadi CaCO3 + H2CO3 →
Ca(HCO3)2 dan MgCO3 + H2CO3
→ Mg(HCO3)2
5.
Sistem Panen Hujan
Pemanenan air hujan (PAH) merupakan metode atau teknologi
yang digunakan untuk mengumpulkan air hujan yang berasal dari atap bangunan,
permukaan tanah, jalan atau perbukitan batu dan dimanfaatkan sebagai salah satu
sumber suplai air bersih ((UNEP, 2001; Abdulla et al., 2009). Air hujan
merupakan sumber air yang sangat penting terutama di daerah yang tidak terdapat
sistem penyediaan air bersih, kualitas air permukaan yang rendah serta tidak
tersedia air tanah (Abdulla et al., 2009).
Amin (2009) menjelaskan bahwa pemeliharaan sistem pemanenan
air hujan lebih sulit dan jika sistem tidak dirawat dengan baik dapat berdampak
buruk pada kualitas air hujan yang terkumpul, pengembangan sistem pemanenan air
hujan yang lebih luas sebagai salah satu alternatif sumber air bersih dapat
mengurangi pendapatan perusahaan air minum, sistem pemanenan air hujan biasanya
bukan merupakan bagian dari pembangunan gedung dan tidak/ jarang ada pedoman
yang jelas untuk diikuti bagi pengguna atau pengembang, pemerintah belum memasukkan
konsep pemanenan air hujan dalam kebijakan pengelolaan sumber daya air dan
masyarakat belum terlalu membutuhkan instrumen pemanenan air hujan di
lingkungan tempat tinggalnya.
5.1. Tujuan
Panen Air Hujuan
Pemanenan
air hujan ini ditujukan untuk memanfaatkan runoff, penyimpanan lengas tanah
bertujuan untuk mencegah runoff dan menyimpan air hujan di tempat dimana ia
jatuh dari langit sebanyak mungkin (Chao-Hsien
Liaw & Yao-Lung Tsai, 2004).
5.2. Prinsip
Panen Air Hujan
Pemanenan
air hujan dalam makna yang luas dapat didefinisikan sebagai kegiatan
pengumpulan runoff untuk penggunaan yang produktif. Runoff dapat ditangkap dan
dikumpulkan dari cucuran atap atau dari permukaan lahan, atau dari
sungai-sungai musiman. Sistem pemanenan air yang memanen runoff dari atap bangunan
atau dari permukaan lahan termasuk dalam kategori “pemanenan air hujan”,
sedangkan semua system yang mengumpulkan
runoff dari sungai-sungai musiman dikelompokkan dalam kategori
“pemanenan air banjir”.
Siklus hidrologi: Pentingnya hujan dalam siklus hidrologi
(FAO. 1991).
Sebagian tertentu dari lahan, daerah
tangkapan air, dibiarkan tidak diolah. Air hujan yang jatuih di daerah tangkapan
ini dialirkan ke petakan lahan yang diolah dan ditanami. Runoff dapat juga
dikumpulkan di area budidaya tanaman dengan menggunakan metode-metode
konservasi lengas tanah (bangunan-bangunan yang terbuat dari tanah atau batu),
yang memungkinkan air hujan ber-infiltrasi ke dalam tanah dan menjadi tersedia
bagi akar tanaman.
Prinsip
panen air hujan untuk produksi tanaman (FAO. 1991)
Teknik-teknik pemanenan
air hujan bersekala kecil dapat menangkap air hujan dan runoff dari daerah tangkapan
yang kecil, meliputi lereng-lereng yang pendek, panjang lereng kurang dari 30 m
(daerah-tangkapan mikro). Pemanenan air hujan pada lereng lebih dari (30m –
200m), di luar lahan pertanian budidaya juga dapat dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar