Minggu, 20 Juli 2014

praktikum pengelolaan air tentang laju evapotranspirasi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.     Latar Belakang
            Evapotranspirasi merupakan komponen penting dalam keseimbangan hidrologi. Di lingkungan terestrial, evapotranspirasi merupakan komponen tunggal terbesar siklus air. Oleh karena itu, pengetahuan tentang evapotranspirasi penting dalam manejemen sumber daya air, pendugaan hasil tanaman, dan dalam mempelajari hubungan antara perubahan penggunaan lahan dan iklim ( Friend, 2010).
             Hansker (2010) menjelaskan bahwa laju evapotranspirasi dari tanaman pendek yang menutupi tanah secara sempurna, tinggi yang seragam, dan berada dalam keadaan cukup air. Handoko (2005) menjelaskan bahwa untuk memaksimumkan laju evapotranspirasi sehingga didapatkan nilai potensialnya, juga mempunyai implikasi bahwa ETP hanya ditentukan oleh faktor iklim. Konsep ini mempunyai pengaruh yang luas terhadap perencanaan irigasi, dan memungkinkan berkembangnya berbagai metode pendugaan ETP, dengan mendasarkan perhitungan pada salah satu variabel atau kombinasi beberapa variabel iklim.

1.2      Tujuan Praktikum
1.    Dapat menghitung ETP dari data pengamatan panci A.
2.    Dapat menghitung ETP metode Thortwaite baik menggunakan nomogram maupun rumus empiris.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Pengertian Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan peubah yang sangat berkaitan dengan produksi tanaman. Pengamatan evapotranspirasi harian dapat digunakan sebagai peringatan dini terhadap kekurangan air. Defisit evapotranspirasi merupakan selisih antara evapotranspirasi potensial dengan evapotranspirasi aktual. Evapotranspirasi potensial terjadi pada kondisi air tersedia maksimum atau kapasitas lapang, evapotranspirasi actual terjadi pada kondisi air tersedia dibawah kapasitas lapang. Jika kekurangan air dapat diatasi sedini mungkin maka penurunan produksi dapat dihindari. Evapotranspirasi adalah proses gerakan air dari sistem tanah ke tanaman kemudian ke atmosfir (transpirasi) dan gerakan air dari sistem tanah kepermukaan tanah kemudian ke atmosfir (evaporasi) (Eko, 2005).

2.2.   Faktor-faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi
          Kimball (2007) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menpengaruhi evapotranspirasi adalah sebagai berikut :
1.         Radiasi surya (Rd): Komponen sumber energi dalam memanaskan badan-badan air, tanah dan tanaman. Radiasi potensial sangat ditentukan oleh posisi geografis lokasi
2.         Kecepatan angin (v): Angin merupakan faktor yang menyebabkan terdistribusinya air yang telah diuapkan ke atmosfir, sehingga proses penguapan dapat berlangsung terus sebelum terjadinya keejenuhan kandungan uap di udara,
3.         Kelembaban relatif (RH): Parameter iklim ini memegang peranan karena udara memiliki kemampuan untuk menyerap air sesuai kondisinya termasuk temperatur udara dan tekanan udara atmosfit
4.          Temperatur: Suhu merupakan komponen tak terpisah dari RH dan Radiasi. Suhu ini dapat berupa suhu badan air, tanah, dan tanaman ataupun juga suhu atmosfir.

2.3.     Metode thortwaite
          Metode Thornthwaite dan Blaney-Cridle berdasarkan responnya terhadap perubahan suhu, dibanding dengan metode lainnya barang kali dapat dianggap sebagai pencilan. Di stasiun yang lebih hangat, kedua metode terutama sekali Thornthwaite menunjukkan respon yang sangat besar terhadap perubahan suhu dibanding metode lainnya, kenyataan ini membawa pada suatu kesimpulan bahwa nilai perubahan yang dihasilkan menjadi kurang realistis. Metode Thornthwaite, Blaney-Criddle, dan Jensen-Haise merupakan yang relatif paling peka terhadap perubahan suhu, diikuti oleh metode Samani-Hargereaves, sedangkan tiga metode lainnya, yaitu metode Priestley-Taylor, Panman, dan
Panman-Monteith kepekaannya terhadap perubahan suhu relatif sama (Thornthwaite, 1957)
                                   
                           Rumus yang diperoleh dari Metode Thortwaiten :
ETpot = ETPref.CropF.CropFc                                                                                  (1)
Kemudian T  26,5 maka ETref  = 16   A                                                                                (2)
Jika T  26,5 maka ETref  =  – 41.545 + 3,2244 T - 0,0433 T2                             (3)
Dan A = 0,49239 + 0,01792 H - 0,0000771 H 2 + 0,000000675  H 3             (3)
Kemudian CropF = Crop faktor, CropFc = a kalibrasi parameter T = temperatur (0C) dan H = bulan dari Thortwaiten (3) jadi rumusnya :
H  =  1,514                                                                                                                           (4)

            Pada metode Thornthwaite, suhu berpengaruh secara kubik (berpangkat tiga) terhadap ETP, sehingga perubahan yang kecil pada suhu udara mengakibatkan peningkatan yang cukup berarti pada ETP. Penilaian kepekaan motode pendugaan evapotranspirasi potensial terhadap perubahan iklim, yakni tanggapan ETP terhadap kenaikan suhu dilakukan melalui analisis regresi. Persamaan regresi diturunkan dengan menempatkan nilai persentase perubahan ETp sebagai variabel terikat (Y), sedangkan variabel iklim (suhu) sebagai variabel bebas, prediktor (X) (Thornthwaite, 1957).



BAB III
METEDOLOGI PRAKTIKUM

3.1.    WaktudanTempat
          Praktikum Pendugaan Evapotranspirasi (ETP) metode thornthwaite  ini telah dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 14 Mei 2014 di Fakulas Pertanian Univesitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar
3.2.      Alat, dan Bahan
Adapun alat dan bahannya yaitu :
·      Buku
·      Polpen
·      Kalklator/Hv
·      Modul
3.3.    Prosedur Perhitungan
·         Menghitung indeks heat index masing-masing bulan (i) dengan rumus :
i   =  1,514
·         menghitung heat index setahun (I) dengan cara menjumlahkan i masing-masing bulan
·         Menghitung nilai a dengan rumus a = 0,000000675  I 3  - 0,0000771 I 2 + 0,01792 I + 0,49239
·         Menghitung ETP tidak dikoreksi dengan rumus ETP = 1,6 (10 t/l)auntuk suhurata-rata t < 26,5 0C. untuk suhu t  26,5 0C menggunakan tabel pada nomogram atau gunakan rumus : ETP (t 26,5 0C) = - 0,0433 t2+ 3,2244 t – 41.545
·         Menentukan nilai faktor koreksi (F) pada tabel 2.4 yang disesuaian dengan bulan dan posisi lintang.
·         Kemudian menghitung ETP terkoreksi dengan rumus :
ETPterkoreksi = ETP X F


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.    Hasil
          Tabel 1. Hasil pengamatan evapotranspirasi menggunakan    metode                                    thortwaite
Bulan
T
I
ETP*
ETP**
F
ETP
ETP terkoreksi
Jan
26,5
12,49
12.896
 -
1,01
12.896
13,024
Feb
27
12,85
13,95
0,92
13,95
12,834
Mar
26,5
12,49
12.896
1,03
12.896
13,282
Apr
27
12,85
13,95
1,03
13,95
14,368
Mei
26,5
12,49
12.896
1,07
12.896
13,798
Jun
26,5
12,49
12.896
1,05
12.896
10,762
Jul
25
11,43
 -
12.002
1,07
12.002
12,602
Agust
26
12,13
 -
13.018
1,06
13.018
13,799
Sept
27,5
13,21
 -
14.381
1,02
14.381
14,668
Okt
28,5
13,94
 -
15,18
1,03
15,18
15,635
Nov
28
13,57
 -
14,80
0,99
14,80
14,652
Des
28
13,57
 -
14,80
1,01
14,80
14,948

                        Grafik hubungan suhu dan ETP pada berbagai bulan
Gambar 1

4.2.    Pembahasan
            Dari grafik evapotranspirasi (Gambar 1) menggunakan metode thortwaite
 Bahwa nilai ETP Terkoreksi setiap bulan sangat berbeda. Pada bulan januari nilai ETP terkoreksinya (13,024), bulan februari (12,834), bulan maret (13,285), bulan april (14,368), bulan mei (13,798), bulan juni (10,762), bulan juli (12,602), bulan agustus (13,799), bulan september (14,668), bulan oktober (15,635) bulan november (14,652), bulan desember (14,652). Karena perubahan besarnya ETP di bawah kondisi iklim yang berubah dinyatakan dalam persentase dari besar ETP pada keadaan iklim standar (tanpa perubahan iklim). peningkatan suhu menyebabkan naiknya tekanan uap permukaan yang berevaporasi, mengakibatkan bertambahnya defisit tekanan uap antara permukaan dengan udara sekitar.  
          Karena metode Thornthwaite merupakan yang relatif paling peka terhadap perubahan suhu, dan  setiap bulan yang telah diamati data terkecil dari nilai ETP terkoreksi berada di bulan juli. Hal ini sejalan dengan pendapat Bantaran (2004) bahwa perubahan yang terjadi pada suhu akan diikuti oleh perubahan pada elemen iklim lainnya, diantaranya curah hujan, keawanan, kelembaban, dan kecepatan angin.

BAB IV
PENUTUP

5.1.    Kesimpulan
            Dari  hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, Nilai ETP terkoreksi pada bulan juni memiliki nilai ETP terendah yaitu 10,762 dengan suhu 26,5 0C dan nilai ETP yang tertinggi berada pada bulan desember yaitu 14,948 dengan suhu 28 0C. Karena pengaruh perubahan iklim pada ETP terkoreksi tergantung pada metode yang digunakan. Baik data yang dibutuhkan dalam perhitungan maupun bentuk struktural persamaan dapat mempengaruhi hasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar