BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Asdak (2007) menjelaskan bahwa debit air adalah
besarnya air yang mengalir persatuan waktu tertentu. Kondisi suatu perairan
sangat tergantung dengan debit air yang ada. Jika debit air cukup tinggi maka
dapat mendukung kelangsungan hidup organisme didalamnya. Debit air yang cukup,
mampu mendukung kegiatan perikanan khususnya budidaya ikan. Pengukuran debit
air penting guna untuk mengetahui kemampuan perairan untuk dapat dimanfaatkan
secara optimal.
Debit aliran merupakan satuan untuk
mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan
pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumber daya
air di suatu wilayah DAS. Debit aliran dapat dijadikan sebuah alat untuk
memonitor dan mengevaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan potensi
sumber daya air permukaan yang ada (Widodo, 2005).
Takeda (2003) Menjelaskan bahwa pengukuran debit air dapat
dilakukan dengan mengukur kecepatan aliran air pada suatu wadah dengan luas penampang
area tertentu. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengukuran
kecepatan aliran air pada sungai atau alur antara lain: Area-velocity
method, Tracer method, Slope area method, Weir dan flume, Volumetric
method Area. Kecepatan aliran dapat diukur dengan metode : metode current-meter
dan metode apung. Kemudian distribusi kecepatan aliran di dalam alur tidak
sama pada arah horisontal maupun arah vertikal.
Banyak tersedia alat pengukuran debit air, tetapi
kebanyakan disediakan untuk mengukur debit air dalam penampang pipa. Karena
kecepatan aliran merupakan parameter yang dapat mewakili besaran debit air,
yaitu mengalikannya dengan faktor luas penampang area ukur (Takeda,2005).
Prasetyo (2010) menjelaskan bahwa daerah aliran sungai merupakan daerah
yang dibatasi oleh pemisah topografi yang merupakan daerah tangkapan air (catchment
area) memiliki fungsi menerima, menampung dan mengalirkan air ke laut
melalui sungai utama. Daerah aliran sungai mempunyai manfaat sangat penting
bagi kelangsungan hidup manusia, tumbuhan dan hewan di sekitarnya. Bertambahnya
jumlah penduduk mempengaruhi kondisi sumberdaya hutan, tanah,
dan air di daerah aliran sungai (DAS).
1.2. Tujuan
Untuk
mengenal beberapa macam-macam alat mengukur debit aliran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sensor
Sensor yang
digunakan pada sistem pengukuran kecepatan aliran air ini adalah Sensor
fototransistor dengan sumber cahaya infrared yang dipasang pada sebuah
baling-baling dan berguna untuk mengukur kecepatan aliran air. Dalam banyak aplikasi
elektronik, led infra merah merupakan dioda yang memancarkan cahaya infra merah
yang tidak dapat dilihat oleh mata, namun umumnya sensor cahaya semi konduktor
sangatlah peka terhadap cahaya infra merah. Phototransistor adalah foto detector
yang mempunyai struktur dasar transistor yaitu n-p-n atau p-n-p. Cara kerja
phototransistor sama dengan cara kerja transistor lainnya, perbedaannya
terletak pada arus daerah basis. Arus yang lewat basis phototransistor berasal
dari energi foton yang jatuh pada daerah basis (Malvino, 2004).
Skema phototransistor seperti ditunjukkan pada
gambar dibawah ini
Gambar Simbol Phototransistor (sumber : Malvino,
2004)
Malvino (2004) menjelaskan bahwa jika fototransistor diberi
cahaya pada daerah basis maka energi foton cahaya tersebut akan menciptakan
hole-elektron seperti pada P-N sambungan yang dapat menimbulkan arus pada
basis. Phototransistor adalah suatu alat semi konduktor cahaya lebih peka dari pada poto dioda p-n,
sehingga pembawa minoritas dibangkitkan secara termal, dan electron-electron
yang menyeberang dari basis ke kolektor maupun lubang yang menyeberang dari
kolektor ke basis membentuk arus jenuh balik kolektor ICo. Arus kolektor
diberikan oleh persamaan dengan IB = 0, yaitu :
IC = ( β +1)ICO............................................................................. (1)
Apabila komponen dari arus balik jenuh
disebabkan oleh cahaya yang dinyatakan dengan IL,arus kolektor total
adalah:
IC = ( β +1)(ICO + IL..................................................................... (2)
2.2.
Pengukuran Kecepatan Aliran
Angrahini
(2007) menjelaskan bahwa pengukuran debit saluran irigasi dilakukan dengan cara
mengukur kecepatan arus dan penampang melintang saluran dengan menggunakan alat
pengukur kecepatan (current meter). Alat ini digunakan karena memberikan
ketelitian yang cukup tinggi. Kecepatan aliram yang diukur adalah kecepatan
aliran titik dalam satu penampang tertentu. Prinsip yang digunakan adalah
hubungan antara kecepatan aliran dengan putaran baling-baling. Untuk menghitung
besarnya kecepatan aliran berdasarkan kecepatan baling-baling digunakan rumus :
V = a + bn...................................................................................... (3)
Dimana:
v = kecepatan aliran
(m/dtk)
a = kecepatan permulaan
untuk mengatasi gesekan dalam alat
n = banyaknya putaran per
detik, n = p/t
b = konstanta
p = jumlah putaran per
siklus
t = waktu siklus
Sri Harto (2004) menjelaskan bahwa ada beberapa cara untuk
menentukan distribusi kecepatan secara vertikal yaitu dengan menempatkan baling-baling
current meter pada kondisi kedalaman, yaitu : (a) Pengukuran pada satu titik, umumnya dilakukan
apabila kedalaman air kurang dari satu meter, penempatan baling-baling pada
kedalaman 0,60 h diukur dari muka air. (b) Dalam praktek umumnya, pengukuran
kecepatan aliran dilakukan lebih dari satu titik sehingga diharapkan dapat
memberikan pengukuran yang dapat dipertanggung jawabkan sehingga ketinggian
yang dipakai adalah 0,2 h dan 0,8 h seperti yang ditunjukkan pada Gambar di
bawah ini.
Gambar 1. Hubungan antara penampang
saluran dan penempatan baling-baling
2.2. Menentukan Debit
Sudjarwadi (2004) menjelaskan bahwa untuk menentukan besarnya debit pengukuran pada pintu
saluran adalah perkalian antara luas penampang basah dengan kecepatan
rata-ratanya.
Q = v. A......................................................................................... (3)
Dimana :
Q = debit (m3/dtk)
v = kecepatan rata – rata
aliran
A = luas penampang basah saluran
BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu
Dan Tempat
Prakikum ini dilaksanakan pada hari
Kamis 26 Juni 2014 di Desa Pungka Kec. Unter Iwis Kab.Sumbawa Besar.
3.2. Alat Dan Bahan
· Bola Kasti
· Alat Pengukur
· Buku
· Bolpoin
· Stopwatch
· Tali Rapia
3.3. Cara Kerja
· Memili lokasi penelitian debit air
yang tidak ada genangan dan pusaran.
· Mengukur lokasi empat penelitian dan
membagi sampai 4 (empat) blok.
· Mengukur panjang, lebar, serta tinggi
air permukaan sungai serta aliran sungai.
· Menghitung waktu kecepatan debit air
pada kedua lokasi dengan 5 kali ulangan.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Pengamatan
4.1.1. Tabel
7. Waktu Tempuh Pada Sungai
Luas Penampang Sungai (m)
|
Kedalaman Sungai (m/detik)
|
3746
|
714
|
Gambar
9. Kurva Pendugaan Debit Air pada Sungai
4.1.2. Tabel 8. Waktu Tempuh Pada Saluran Sungai
Luas Penampang Saluran Sungai (m)
|
Kedalaman Saluran Sungai (m/detik)
|
1,333
|
0,801
|
Gambar
10 . Kurva Pendugaan Debit Air pada Saluran Sungai
Pembahasan
Dari
hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap debit air dapat dilihat pada
(Tabel. 7). Dimana waktu tempuh pada sungai dengan luas penampang sungai 3746 meter, kedalaman sungai 714 (m/detik). Sedangkan pada (Tabel. 8) waktu tempuh pada sungai
dengan luas penampang sungai 1,333
meter, kedalaman sungai 0,801 (m/detik). Hasil yang
didapat ini dilakukan dengan empat kali ulangan, hal ini dimaksud agar data
yang diperoleh lebih akuarat.
Data tersebut diambil dari dua lokasi yang
berbeda, perbedaannya sangat nyata antara luas penampang sungai dengan kedalaman
sungai, karena ada perbedaan arus pada ke dua lokasi tersebut dimana, pada
suatu masa besar kecilnya arus mempengaruhi debit aliran air. Semakin dalam
(dasar) suatu aliran maka arus pun semakain lambat, dan sebaliknya semakin
dangkal suatu aliran maka debit arus pun semakin cepat.
Hal
ini sejalan dengan pendapat Asdak (2008) Debit air
adalah besarnya air yang mengalir persatuan waktu tertentu. Kondisi suatu
perairan sangat tergantung dengan debiat air yang ada. Jika debit air cukup
tinggi maka dapat mendukung kelangsungan hidup organisme didalamnya.
BAB V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
Dari
hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa setiap ulangan yang dilakukan
memliki waktu yang berbeda-beda, karena Pergerakan air sangat dipengaruhi oleh jenis bentang alam, jenis batuan
dasar, dan curah hujan. Semakin rumit bentang alam, semakin besar ukuran batuan
dasar, dan semakin banyak curah hujan.
DAFTAR PUSTAKA
Anggrahini, M.Sc, 20077. Hidrolika
Saluran Terbuka, Penerbit CV. Citra Media, Surabaya.
Asdak, Chay.
2008. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Malvino, Albert Paul, 2004, Aproksimasi Rangkaian Semikonduktor,
Penerbit Erlangga, Jakarta
Prasetyo, 2010. Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai . Sekolah Pasca Sarjana, Insitut
Pertanian Bogor.
Sri Harto, BR, 2004. Diktat Analisis
Hidrologi, PAU Ilmu Teknik, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.
Sudjarwadi,2004 Pengantar Teknik
Irigasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Takeda, K. ; 2003 ; Hidrologi, Untuk Pengairan ; PT
Pradnya Paramita ; Jakarta.
Widodo Budiarto, 2005, Perancangan Sistem dan Aplikasi Mikrokontroller,
Elex Media Komputindo, Jakarta.