Kebijakan Inovasi
Teknologi
untuk Pengelolaan
Lahan Suboptimal Berkelanjutan1
Benyamin
Lakitana,b dan Nuni Gofarb
Kementerian
Riset dan Teknologi, bFakultas Pertanian Universitas Sriwijaya
Abstrak
Indonesia
saat ini tidak lagi punya banyak pilihan dalam rangka mewujudkan ketahanan
pangan nasional selain memanfaatkan lahan-lahan suboptimal yang masih tersedia
dan memungkinkan untuk dikelola sebagai lahan produksi pangan, karena upaya
peningkatan produktivitas sudah semakin sulit secara teknis agronomis dilakukan
dan juga semakin tidak ekonomis untuk diusahakan. Namun demikian, perlu
dipahami bahwa lahan-lahan yang tergolong suboptimal mempunyai beragam
karakteristik dan potensinya. Oleh sebab itu, perlu diprioritaskan pada
pengembangan teknologi yang secara teknis relevan untuk masing-masing
karakteristik lahan suboptimal tersebut, secara ekonomis terjangkau oleh petani
setempat, serta diharapkan juga selaras dengan preferensi dan sosio-kultural
masyarakat setempat. Dua pendekatan yang dapat secara paralel dan interaktif
dilakukan adalah [1] optimalisasi sifat fisik, kimia, dan (mikro)biologi tanah
yang dibarengi dengan optimalisasi pengelolaan sumberdaya air agar efektif dan
lebih efisien; dan [2] seleksi jenis komoditas yang sesuai dan pengembangan varietas
yang adaptif secara spesifik untuk masing-masing karakteristik lahan
suboptimal. Untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan lahan suboptimal, maka
semua upaya teknis dan teknologis yang dilakukan harus pula mempertimbangkan
kemungkinan dampak ekologisnya, kesesuaian sosiokultural dengan masyarakat
lokal, selain tentunya menguntungkan secara ekonomi bagi petani sebagai pelaku
utamanya.
1. Pendahuluan
Untuk mewujudkan ketahanan pangan
secara berkelanjutan (ekologis) dan berbiaya terjangkau petani (ekonomis), maka
Indonesia tidak punya pilihan lain kecuali harus mulai dengan sungguh-sungguh
untuk mengelola lahan-lahan suboptimal yang dimiliki, terutama di luar Pulau
Jawa. Argumen utamanya adalah: [1] walaupun secara teknis proses budidaya
tanaman dapat dilakukan tanpa tanah (hidroponik dan aeroponik), namun secara
ekonomi sulit dapat melakukan budidaya tanaman secara produktif dan
menguntungkan dengan tanpa berbasis pada lahan; sedangkan [2] lahan yang subur
semakin menyempit karena dikonversi menjadi lahan untuk kepentingan
non-pertanian. Usaha pertanian tanaman pangan selalu kalah kompetitif
dibandingkan dengan usaha properti, industri, dan perdagangan, atau harus
mengalah ketika akan dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur.
Mengelola lahan-lahan suboptimal
tentu akan lebih rumit. Kendala teknis/agronomis yang dihadapi butuh teknologi
yang berkesesuaian. Karakteristik lahan suboptimal yang beragam dengan
intensitas tantangannya yang juga bervariasi akan menambah kompleksitas
persoalan yang dihadapi. Setiap aplikasi teknologi untuk perbaikan sifat fisik,
kimia, dan/atau biologi tanah akan secara langsung menambah biaya usahatani.
Secara agronomis, hampir semua
kendala lahan suboptimal telah diketahui dan telah tersedia teknologi yang
relevan untuk solusinya. Namun persoalan utamanya adalah aplikasi
teknologi-teknologi tersebut akan secara signifikan menambah beban biaya
usahatani, berarti secara langsung akan mengurangi keuntungan atau bahkan
menyebabkan kerugian bagi petani. Dengan demikian, maka tantangan bagi
pengembang teknologi untuk pengelolaan lahan suboptimal di masa yang akan
datang harus lebih fokus pada [1] upaya menekan nilai investasi awal dan biaya
operasional alat dan mesin pertanian, serta [2] mencari bahan baku domestik
yang lebih murah dan lebih tersedia untuk pembenah dan penyubur tanah, sehingga
biayanya murah dan lebih mungkin diaplikasikan secara masif.
Dari
aspek pengelolaan lahan, selain pembenahan dan penyuburan tanah, perlu pula
dilakukan pengembangan tata kelola sumberdaya air yang lebih efisien, sesuai
dengan kebutuhan tanaman, ternak, dan/atau ikan yang dibudidayakan. Jenis
teknologi yang dibutuhkan untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal
akan berbeda. Untuk lahan kering (upland), butuh teknologi yang efektif
dan efisien dalam mengelola sumberdaya air yang tersedia; sebaliknya, untuk
lahan basah (wetland), lebih membutuhkan teknologi tata kelola air yang
pas untuk berbagai jenis komoditas pangan yang akan dibudidayakan. Untuk lahan
basah, diperlukan upaya untuk menjaga keseimbangan dinamis antara upaya untuk
memperbaiki aerasi tanah agar oksigen tersedia bagi sistem perakaran tanaman;
menjaga ketersediaan air yang sesuai kebutuhan tanaman, ternak, atau ikan yang
dibudidayakan; serta mengendalikan agar unsur-unsur yang dapat meracuni tanaman
tidak menjadi lebih tersedia dan diserap sistem perakaran tanaman.
2. Karakteristik dan Potensi Lahan-lahan
Suboptimal
2.1.
Karakteristik Lahan Suboptimal
Lahan suboptimal pada dasarnya
merupakan lahan-lahan yang secara alami mempunyai satu atau lebih kendala
sehingga butuh upaya ekstra agar dapat dijadikan lahan budidaya yang produktif
untuk tanaman, ternak, atau ikan. Kendalah tersebut dapat berupa: [1] kesulitan
dalam menyediakan air yang cukup untuk mendukung usaha tani yang produktif dan
menguntungkan; [2] sifat kemasaman tanah yang tinggi (pH rendah) sehingga butuh
upaya untuk menetralisir kemasaman tanah tersebut; [3] dinamika pasang-surut
genangan air yang sulit diprediksi sehingga dapat menyebabkan gagal tanam
maupun gagal panen; [4] lahan terpengaruh oleh intrusi air laut; [5] terdapat
lapisan pirit dangkal yang menjadi ancaman karena dapat meracuni sistem perakaran
tanaman; [6] sangat miskin unsur hara sehingga membutuhkan dosis pemupukan yang
lebih tinggi; dan/atau [7] tanah berbatu sehingga sulit diolah secara mekanis.
Kondisi suboptimal ini dapat terjadi secara alami, akibat terkena dampak dari
kegiatan manusia di dan/atau sekitar lokasi yang bersangkutan, atau akibat
salah kelola pada periode sebelumnya.
Di Indonesia, lahan suboptimal yang luas
hamparannya adalah agroekosistem: [1] lahan kering masam, dengan kendala utama
miskin hara, masam, dan kurang air; [2] lahan kering pada wilayah iklim kering,
dengan kesulitan utamanya adalah menyediakan air yang cukup untuk budidaya
tanaman; selain itu sering juga tanahnya berbatu dengan lapisan topsoil yang
tipis; [3] lahan rawa pasang surut, dengan masalah utama kesulitan dalam
mengatur tata airnya, keberadaan lapisan pirit, lapisan gambut tebal, dan
intrusi air laut; dan [4] lahan rawa lebak, dengan kendala kesulitan dalam
memprediksi dan mengatur tinggi genangan dan kemasaman tanah.
2.2. Potensi Lahan-lahan Suboptimal
Pada saat tergenang, perikanan cukup
berpotensi di kawasan rawa, baik dalam usaha penangkapan maupun dalam sistem
budidaya, yang dapat dilakukan di berbagai tipologi lahan dan berbagai tipologi
luapan. Budidaya ikan yang diterapkan di lahan lebak antara lain sistim pagar,
kolam bejek dan sistim surjan. Sistim pagar lebih cocok diterapkan pada lahan
rawa yang fluktuasi air hanya sedikit (Sulistyarto et al., 2007). Ternak
itik juga cukup potensial di lahan rawa lebak dengan menggunakan paket teknologi
perlakuan pakan dan pemeliharaan secara semi intensif dan intensif. Dari hasil
kajian Suparwoto dan Waluyo (2009), sistem pemeliharaan secara intensif dapat
meningkatkan produksi telur sebesar 40,36% dengan pemberian pakan 100
g/ekor/hari.
Masganti dan Yuliani (2010)
melaporkan, bahwa produktivitas padi lokal varietas Siam Adus pada lahan pasang
surut tipe luapan B di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah tertinggi mencapai
3,82 ton GKG/hektar. Sementara jika lahan pasang surut dibudidayakan dengan tanaman
jagung tanpa aplikasi teknologi, produktivitasnya sangat rendah, hanya sebesar
2,21 ton/hektar pada areal lahan pasang surut Kabupaten Tanjung Jabung Barat,
Jambi (Jumakir dan Endrizal, 2009).
Produktivitas
padi dan jagung hibrida di lahan kering Kabupaten Bone Sulsel berturut-turut
2,82 ton GKG dan 7,8 ton pipilan kering per hektar (Hadijah et al.,
2009). Produktivitas lahan suboptimal tersebut dapat ditingkatkan apabila
dikelola secara berkelanjutan memanfaatkan teknologi tepat guna hasil-hasil
penelitian, melalui rekayasa fisik, kimia, biologi serta pengelolaan tata air
sesuai karakteristik tanahnya.
3. Perbaikan Tata Air
Pengaturan tata air merupakan satu
hal yang sangat penting dalam pengelolaan lahan pertanian pada ekosistem rawa.
Pengaturan tata air ini bukan hanya untuk mengurangi atau menambah ketersediaan
air permukaan, melainkan juga untuk mengurangi kemasaman tanah, mencegah
pemasaman tanah akibat teroksidasinya lapisan pirit, mencegah bahaya salinitas,
bahaya banjir, dan mencuci zat beracun yang terakumulasi di zona perakaran
tanaman (Suryadi et al., 2010).
Strategi
pengendalian muka air ditujukan kepada aspek upaya penahanan muka air tanah
agar selalu di atas lapisan pirit dan pencucian lahan melalui sistem drainase
terkendali. Kondisi muka air yang diinginkan sangat tergantung kepada jenis
tanaman, jenis tanah, dan kondisi hidrologis wilayah setempat (Imanudin dan
Susanto, 2008). Permasalahan dalam budidaya tanaman non padi di lahan rawa
adalah kelebihan air yang sangat mengganggu pertumbuhan awal tanaman. Sementara
itu, kalau penanaman ditunda, maka akan terjadi kekurangan air pada fase
generatif. Permasalahan status air ini dapat diatasi dengan membangun sistem
drainase yang tepat (Imanudin dan Tambas, 2002).
4. Tantangan Pengelolaan Lahan Suboptimal
Pengelolaan lahan suboptimal masih
banyak menghadapi permasalahan. Selain aspek fisik lahan seperti yang telah
diungkapkan sebelumnya, permasalahan non fisik antara lain rendahnya minat dan
kemampuan enterpreneurship petani, lemahnya sistem kelembagaan untuk
memfasilitasi dan melindungi usahatani masyarakat, dan aplikasi teknologi yang
rendah terutama karena terkendala oleh kapasitas finansial petani yang tidak
memadai.
Dalam pengelolaan sumberdaya air,
seringkali terjadi benturan kepentingan dalam menentukan prioritas pemanfaatan
air di lapangan, antara kepentingan transportasi, pertanian, atau kegiatan
lainnya. Dari aspek budidaya, kendala yang dihadapi adalah: [1] persiapan
lahan, pemakaian benih varitas unggul, penanaman (waktu tanam, cara tanam),
pemeliharaan, pemupukan, pengendalian hama, penyakit tanaman dan gulma yang
belum dilakukan dengan baik; [2] belum dilaksanakan integrasi dengan budidaya
ternak (itik, kerbau) dan ikan sehingga produktivitas lahan suboptimal masih
rendah; [3] penanganan panen dan pasca panen belum dilakukan dengan baik dan
efisien sehingga persentase kehilangan masih tinggi.
Aksesibilitas
yang rendah akibat prasarana transportasi yang belum tersedia atau dalam
kondisi yang buruk juga menjadi tantangan dalam pengelolaan lahan suboptimal.
Terbatasnya aksesibilitas menyebabkan biaya angkut hasil produksi maupun sarana
produksi relatif mahal. Kurangnya infrastruktur penunjang dalam pembangunan
pertanian di lahan suboptimal akan berdampak pada rendahnya produktivitas dan
kualitas produk serta sulitnya pemasaran.
Pengembangan
teknologi pengolahan merupakan salah satu alternatif penganekaragaman produk
sebagai penunjang agroindustri yang sesuai untuk tingkat pedesaan dan
meningkatkan nilai tambah komoditas di lahan suboptimal. Dengan lebih
beragamnya produk olahan diharapkan dapat mendukung program ketahanan pangan.
Dampak pengembangan agroindustri di pedesaan antara lain dapat mendorong
tumbuhnya usaha-usaha di bidang pengolahan pangan, bengkel peralatan dan meningkatkan
status gizi masyarakat (Antalina dan Umar, 2009).
5. Menyeimbangkan Kepentingan Ekonomi dan
Ekologi
Lahan suboptimal membutuhkan lebih
banyak intervensi teknologi agar dapat dijadikan lahan pertanian yang
produktif. Upaya ini selain mahal secara ekonomi, sering juga beresiko tinggi
bagi lingkungan. Mudah untuk dipahami bahwa tidak seluruh bentang lahan suboptimal
dapat dan perlu dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Dengan demikian maka
tidak semua jengkal lahan suboptimal harus digunakan sebagai lahan produksi;
sebagian perlu tetap diperuntukan bagi kepentingan konservasi.
Kebutuhan
lahan paling besar adalah untuk kepentingan pertanian. Berdasarkan estimasi
Schneider et al. (2011), pada tahun 2005, pertanian telah menggunakan
sekitar 38 persen lahan secara global dan diprediksi akan menguasai separuh
pada tahun 2030 dan mencapai dua per tiga lahan dunia pada tahun 2070. Taksiran
ini dilakukan dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk yang diikuti
dengan peningkatan kebutuhan pangan dan energi. Peningkatan kebutuhan akan
lahan ini juga akan terjadi di Indonesia mengingat laju pertumbuhan penduduk
Indonesia tidak berbeda jauh dengan rata-rata pertumbuhan penduduk dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar