Minggu, 20 Juli 2014

jurnal nasional




Kebijakan Inovasi Teknologi
untuk Pengelolaan Lahan Suboptimal Berkelanjutan1


Benyamin Lakitana,b dan Nuni Gofarb
Kementerian Riset dan Teknologi, bFakultas Pertanian Universitas Sriwijaya


Abstrak
                Indonesia saat ini tidak lagi punya banyak pilihan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional selain memanfaatkan lahan-lahan suboptimal yang masih tersedia dan memungkinkan untuk dikelola sebagai lahan produksi pangan, karena upaya peningkatan produktivitas sudah semakin sulit secara teknis agronomis dilakukan dan juga semakin tidak ekonomis untuk diusahakan. Namun demikian, perlu dipahami bahwa lahan-lahan yang tergolong suboptimal mempunyai beragam karakteristik dan potensinya. Oleh sebab itu, perlu diprioritaskan pada pengembangan teknologi yang secara teknis relevan untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal tersebut, secara ekonomis terjangkau oleh petani setempat, serta diharapkan juga selaras dengan preferensi dan sosio-kultural masyarakat setempat. Dua pendekatan yang dapat secara paralel dan interaktif dilakukan adalah [1] optimalisasi sifat fisik, kimia, dan (mikro)biologi tanah yang dibarengi dengan optimalisasi pengelolaan sumberdaya air agar efektif dan lebih efisien; dan [2] seleksi jenis komoditas yang sesuai dan pengembangan varietas yang adaptif secara spesifik untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal. Untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan lahan suboptimal, maka semua upaya teknis dan teknologis yang dilakukan harus pula mempertimbangkan kemungkinan dampak ekologisnya, kesesuaian sosiokultural dengan masyarakat lokal, selain tentunya menguntungkan secara ekonomi bagi petani sebagai pelaku utamanya.
1.    Pendahuluan
            Untuk mewujudkan ketahanan pangan secara berkelanjutan (ekologis) dan berbiaya terjangkau petani (ekonomis), maka Indonesia tidak punya pilihan lain kecuali harus mulai dengan sungguh-sungguh untuk mengelola lahan-lahan suboptimal yang dimiliki, terutama di luar Pulau Jawa. Argumen utamanya adalah: [1] walaupun secara teknis proses budidaya tanaman dapat dilakukan tanpa tanah (hidroponik dan aeroponik), namun secara ekonomi sulit dapat melakukan budidaya tanaman secara produktif dan menguntungkan dengan tanpa berbasis pada lahan; sedangkan [2] lahan yang subur semakin menyempit karena dikonversi menjadi lahan untuk kepentingan non-pertanian. Usaha pertanian tanaman pangan selalu kalah kompetitif dibandingkan dengan usaha properti, industri, dan perdagangan, atau harus mengalah ketika akan dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur.
            Mengelola lahan-lahan suboptimal tentu akan lebih rumit. Kendala teknis/agronomis yang dihadapi butuh teknologi yang berkesesuaian. Karakteristik lahan suboptimal yang beragam dengan intensitas tantangannya yang juga bervariasi akan menambah kompleksitas persoalan yang dihadapi. Setiap aplikasi teknologi untuk perbaikan sifat fisik, kimia, dan/atau biologi tanah akan secara langsung menambah biaya usahatani.
            Secara agronomis, hampir semua kendala lahan suboptimal telah diketahui dan telah tersedia teknologi yang relevan untuk solusinya. Namun persoalan utamanya adalah aplikasi teknologi-teknologi tersebut akan secara signifikan menambah beban biaya usahatani, berarti secara langsung akan mengurangi keuntungan atau bahkan menyebabkan kerugian bagi petani. Dengan demikian, maka tantangan bagi pengembang teknologi untuk pengelolaan lahan suboptimal di masa yang akan datang harus lebih fokus pada [1] upaya menekan nilai investasi awal dan biaya operasional alat dan mesin pertanian, serta [2] mencari bahan baku domestik yang lebih murah dan lebih tersedia untuk pembenah dan penyubur tanah, sehingga biayanya murah dan lebih mungkin diaplikasikan secara masif.
            Dari aspek pengelolaan lahan, selain pembenahan dan penyuburan tanah, perlu pula dilakukan pengembangan tata kelola sumberdaya air yang lebih efisien, sesuai dengan kebutuhan tanaman, ternak, dan/atau ikan yang dibudidayakan. Jenis teknologi yang dibutuhkan untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal akan berbeda. Untuk lahan kering (upland), butuh teknologi yang efektif dan efisien dalam mengelola sumberdaya air yang tersedia; sebaliknya, untuk lahan basah (wetland), lebih membutuhkan teknologi tata kelola air yang pas untuk berbagai jenis komoditas pangan yang akan dibudidayakan. Untuk lahan basah, diperlukan upaya untuk menjaga keseimbangan dinamis antara upaya untuk memperbaiki aerasi tanah agar oksigen tersedia bagi sistem perakaran tanaman; menjaga ketersediaan air yang sesuai kebutuhan tanaman, ternak, atau ikan yang dibudidayakan; serta mengendalikan agar unsur-unsur yang dapat meracuni tanaman tidak menjadi lebih tersedia dan diserap sistem perakaran tanaman.


2.    Karakteristik dan Potensi Lahan-lahan Suboptimal
2.1. Karakteristik Lahan Suboptimal
            Lahan suboptimal pada dasarnya merupakan lahan-lahan yang secara alami mempunyai satu atau lebih kendala sehingga butuh upaya ekstra agar dapat dijadikan lahan budidaya yang produktif untuk tanaman, ternak, atau ikan. Kendalah tersebut dapat berupa: [1] kesulitan dalam menyediakan air yang cukup untuk mendukung usaha tani yang produktif dan menguntungkan; [2] sifat kemasaman tanah yang tinggi (pH rendah) sehingga butuh upaya untuk menetralisir kemasaman tanah tersebut; [3] dinamika pasang-surut genangan air yang sulit diprediksi sehingga dapat menyebabkan gagal tanam maupun gagal panen; [4] lahan terpengaruh oleh intrusi air laut; [5] terdapat lapisan pirit dangkal yang menjadi ancaman karena dapat meracuni sistem perakaran tanaman; [6] sangat miskin unsur hara sehingga membutuhkan dosis pemupukan yang lebih tinggi; dan/atau [7] tanah berbatu sehingga sulit diolah secara mekanis. Kondisi suboptimal ini dapat terjadi secara alami, akibat terkena dampak dari kegiatan manusia di dan/atau sekitar lokasi yang bersangkutan, atau akibat salah kelola pada periode sebelumnya.
       Di Indonesia, lahan suboptimal yang luas hamparannya adalah agroekosistem: [1] lahan kering masam, dengan kendala utama miskin hara, masam, dan kurang air; [2] lahan kering pada wilayah iklim kering, dengan kesulitan utamanya adalah menyediakan air yang cukup untuk budidaya tanaman; selain itu sering juga tanahnya berbatu dengan lapisan topsoil yang tipis; [3] lahan rawa pasang surut, dengan masalah utama kesulitan dalam mengatur tata airnya, keberadaan lapisan pirit, lapisan gambut tebal, dan intrusi air laut; dan [4] lahan rawa lebak, dengan kendala kesulitan dalam memprediksi dan mengatur tinggi genangan dan kemasaman tanah.

2.2. Potensi Lahan-lahan Suboptimal
            Pada saat tergenang, perikanan cukup berpotensi di kawasan rawa, baik dalam usaha penangkapan maupun dalam sistem budidaya, yang dapat dilakukan di berbagai tipologi lahan dan berbagai tipologi luapan. Budidaya ikan yang diterapkan di lahan lebak antara lain sistim pagar, kolam bejek dan sistim surjan. Sistim pagar lebih cocok diterapkan pada lahan rawa yang fluktuasi air hanya sedikit (Sulistyarto et al., 2007). Ternak itik juga cukup potensial di lahan rawa lebak dengan menggunakan paket teknologi perlakuan pakan dan pemeliharaan secara semi intensif dan intensif. Dari hasil kajian Suparwoto dan Waluyo (2009), sistem pemeliharaan secara intensif dapat meningkatkan produksi telur sebesar 40,36% dengan pemberian pakan 100 g/ekor/hari.
            Masganti dan Yuliani (2010) melaporkan, bahwa produktivitas padi lokal varietas Siam Adus pada lahan pasang surut tipe luapan B di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah tertinggi mencapai 3,82 ton GKG/hektar. Sementara jika lahan pasang surut dibudidayakan dengan tanaman jagung tanpa aplikasi teknologi, produktivitasnya sangat rendah, hanya sebesar 2,21 ton/hektar pada areal lahan pasang surut Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi (Jumakir dan Endrizal, 2009).
            Produktivitas padi dan jagung hibrida di lahan kering Kabupaten Bone Sulsel berturut-turut 2,82 ton GKG dan 7,8 ton pipilan kering per hektar (Hadijah et al., 2009). Produktivitas lahan suboptimal tersebut dapat ditingkatkan apabila dikelola secara berkelanjutan memanfaatkan teknologi tepat guna hasil-hasil penelitian, melalui rekayasa fisik, kimia, biologi serta pengelolaan tata air sesuai karakteristik tanahnya.

3.    Perbaikan Tata Air
            Pengaturan tata air merupakan satu hal yang sangat penting dalam pengelolaan lahan pertanian pada ekosistem rawa. Pengaturan tata air ini bukan hanya untuk mengurangi atau menambah ketersediaan air permukaan, melainkan juga untuk mengurangi kemasaman tanah, mencegah pemasaman tanah akibat teroksidasinya lapisan pirit, mencegah bahaya salinitas, bahaya banjir, dan mencuci zat beracun yang terakumulasi di zona perakaran tanaman (Suryadi et al., 2010).
            Strategi pengendalian muka air ditujukan kepada aspek upaya penahanan muka air tanah agar selalu di atas lapisan pirit dan pencucian lahan melalui sistem drainase terkendali. Kondisi muka air yang diinginkan sangat tergantung kepada jenis tanaman, jenis tanah, dan kondisi hidrologis wilayah setempat (Imanudin dan Susanto, 2008). Permasalahan dalam budidaya tanaman non padi di lahan rawa adalah kelebihan air yang sangat mengganggu pertumbuhan awal tanaman. Sementara itu, kalau penanaman ditunda, maka akan terjadi kekurangan air pada fase generatif. Permasalahan status air ini dapat diatasi dengan membangun sistem drainase yang tepat (Imanudin dan Tambas, 2002).

4.    Tantangan Pengelolaan Lahan Suboptimal
            Pengelolaan lahan suboptimal masih banyak menghadapi permasalahan. Selain aspek fisik lahan seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, permasalahan non fisik antara lain rendahnya minat dan kemampuan enterpreneurship petani, lemahnya sistem kelembagaan untuk memfasilitasi dan melindungi usahatani masyarakat, dan aplikasi teknologi yang rendah terutama karena terkendala oleh kapasitas finansial petani yang tidak memadai.
            Dalam pengelolaan sumberdaya air, seringkali terjadi benturan kepentingan dalam menentukan prioritas pemanfaatan air di lapangan, antara kepentingan transportasi, pertanian, atau kegiatan lainnya. Dari aspek budidaya, kendala yang dihadapi adalah: [1] persiapan lahan, pemakaian benih varitas unggul, penanaman (waktu tanam, cara tanam), pemeliharaan, pemupukan, pengendalian hama, penyakit tanaman dan gulma yang belum dilakukan dengan baik; [2] belum dilaksanakan integrasi dengan budidaya ternak (itik, kerbau) dan ikan sehingga produktivitas lahan suboptimal masih rendah; [3] penanganan panen dan pasca panen belum dilakukan dengan baik dan efisien sehingga persentase kehilangan masih tinggi.
            Aksesibilitas yang rendah akibat prasarana transportasi yang belum tersedia atau dalam kondisi yang buruk juga menjadi tantangan dalam pengelolaan lahan suboptimal. Terbatasnya aksesibilitas menyebabkan biaya angkut hasil produksi maupun sarana produksi relatif mahal. Kurangnya infrastruktur penunjang dalam pembangunan pertanian di lahan suboptimal akan berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas produk serta sulitnya pemasaran.
            Pengembangan teknologi pengolahan merupakan salah satu alternatif penganekaragaman produk sebagai penunjang agroindustri yang sesuai untuk tingkat pedesaan dan meningkatkan nilai tambah komoditas di lahan suboptimal. Dengan lebih beragamnya produk olahan diharapkan dapat mendukung program ketahanan pangan. Dampak pengembangan agroindustri di pedesaan antara lain dapat mendorong tumbuhnya usaha-usaha di bidang pengolahan pangan, bengkel peralatan dan meningkatkan status gizi masyarakat (Antalina dan Umar, 2009).

5.    Menyeimbangkan Kepentingan Ekonomi dan Ekologi
            Lahan suboptimal membutuhkan lebih banyak intervensi teknologi agar dapat dijadikan lahan pertanian yang produktif. Upaya ini selain mahal secara ekonomi, sering juga beresiko tinggi bagi lingkungan. Mudah untuk dipahami bahwa tidak seluruh bentang lahan suboptimal dapat dan perlu dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Dengan demikian maka tidak semua jengkal lahan suboptimal harus digunakan sebagai lahan produksi; sebagian perlu tetap diperuntukan bagi kepentingan konservasi.
            Kebutuhan lahan paling besar adalah untuk kepentingan pertanian. Berdasarkan estimasi Schneider et al. (2011), pada tahun 2005, pertanian telah menggunakan sekitar 38 persen lahan secara global dan diprediksi akan menguasai separuh pada tahun 2030 dan mencapai dua per tiga lahan dunia pada tahun 2070. Taksiran ini dilakukan dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan pangan dan energi. Peningkatan kebutuhan akan lahan ini juga akan terjadi di Indonesia mengingat laju pertumbuhan penduduk Indonesia tidak berbeda jauh dengan rata-rata pertumbuhan penduduk dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar