Minggu, 20 Juli 2014

praktikum pengelolaan air tentang infiltrasi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang
          Noveras (2004) menjelaskan bahwa data laju infiltrasi dapat dimanfaatkan untuk menduga kapan suatu limpasan permukaan (run-off) akan terjadi bila suatu jenis tanah telah menerima sejumlah air tertentu, baik melalui curah hujan ataupun irigasi dari suatu tandon air di permukaan tanah. Oleh karena itu, informasi besarnya kapasitas infiltrasi tanah tersebut berguna, baik dalam pengelolaan irigasi maupun dalam perencanaan konservasi tanah dan air. Dengan mengamati atau menguji sifat ini dapat memberikan gambaran tentang kebutuhan air irigasi yang diperlukan bagi suatu jenis tanah untuk jenis tanaman tertentu pada suatu saat.
          Banyaknya air yang masuk ke dalam tanah melalui proses infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tekstur dan struktur tanah, kelembaban tanah awal, kegiatan biologi dan unsur organik, jenis dan tebal serasah, tipe vegetasi dan tumbuhan bawah (Asdak, 2006).
          Faktor-faktor tersebut berinteraksi sehingga mempengaruhi besarnya infiltrasi dan limpasan permukaan. Semakin besar air hujan yang masuk ke dalam tanah, berarti semakin kecil limpasan permukaan yang terjadi, sehingga besarnya banjir dapat ditekan. Dengan semakin besarnya air yang masuk ke dalam tanah (bumi) diharapkan semakin besar aliran air dasar (base flow) yang ke luar dari aliran bawah tanah, dan berfungsi menjaga kontinuitas aliran sungai melalui mata air (Asdak, 2006).
Proses  infiltrasi  pada  umumnya  terjadi  cepat  pada  awalnya,  yang kemudian  melambat  dan  disusul  oleh  kondisi  yang  konstan.  Dengan  demikian dapat diduga seberapa besar kebutuhan air yang diperlukan oleh suatu jenis tanah pada  suatu  luasan  tertentu  untuk  membasahinya  dari  kondisi  kering  lapang  hingga keadaan  kelembaban airnya menjadi konstan (Indratmo,  2004).
          Proses infiltrasi yang merupakan bagian dari siklus hidrologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelestarian sumberdaya alam. Kapasitas infiltrasi tanah rendah, akan menyebabkan sebagian besar curah hujan yang jatuh pada suatu  daerah akan mengalir sebagai aliran permukaan dan hanya sebagian kecil yang masuk ke dalam tanah yang menjadi simpanan air tanah. Efeknya pada musim hujan besar kemungkinan terjadi banjir dan pada musim kemarau akan terjadi kekeringan. Sebaliknya kapasitas infiltrasi tanah tinggi akan merugikan karena dapat menurunkan produktivitas lahan pertanian atau perkebunan karena kapasitas infiltrasi yang besar dapat menyebabkan meningkatnya proses pencucian unsur hara tanah (Sudarman, 2007).
 
1.2.     Tujuan
1.   Untuk menentukan nilai parameter infiltrasi : fo, fc. dan K
2.   Unuk menetapkan persamaan penduga dan membuat kurva infiltrasi model horton.
3.   Untuk menghitung volume infiltrasi total selama waktu (t) tertentu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKAN

2.1.    Siklus Hidrologi
          Siklus hidrologi adalah reprensentasi atau gambaran dari suatu keadaan (states), obyek (objects), dan kejadian (events). Representasi tersebut harus diungkapkan dalam bentuk yang sederhana, yaitu dengan mengeliminasi atau meminimalkan variabel-variabel lain yang rumit dan tidak terkait secara langsung dengan model tersebut. Representasi tersebut dinyatakan dalam bentuk sederhana yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam tujuan penelitian. Penyederhanaan dilakukan secara representatif terhadap perilaku proses yang relevan dari keadaan yang sebenarnya (Hidayat, 2003).
       Soemarto (2005), menjelaskan bahwa karakteristik siklus Hidrologi yaitu :
a.      Daur hidrologi dapat berupa daur pendek, misalnya hujan yang jatuh di laut, danau ataupun sungai yang segera dapat mengalir kembali ke laut.
b.       Tidak adanya keseragaman waktu yang diperlukan oleh suatu daur. Pada musim kemarau terlihat kegiatan daur berhenti, sedangkan pada musim penghujan daur berjalan kembali.
c.      Intensitas dan frekuensi daur tergantung pada keadaan geografis dan iklim. Hal ini diakibatkan adanya letak matahari yang berubah-ubah terhadap meridian bumi sepanjang tahun (pada kenyataannya yang berubah-ubah adalah letak planet bumi terhadap matahari).
d.       Berbagai bagian dari daur dapat menjadi sangat kompleks, sehingga kita hanya dapat mengamati bagian akhirnya saja dari suatu hujan yang jatuh di permukaan tanah dan kemudian mencari jalan untuk kembali ke laut.
 
Gambar 4. (Siklus Hidrologi Sumber : Soemarto, 2005)
          Adapun penjelasan dari siklus hidrologi tersebut yaitu :
          Terjadi penguapan yang bersumber dari matahari, penguapan (evaporasi) terjadi dari air laut, air sungai, permukaan tanah maupun penguapan dari permukaan tanaman (transpirasi). Uap air tersebut akan naik dan terbawa oleh angin. Pada ketinggian tertentu uap air tersebut akan berubah menjadi awan yang kemudian berubah menjadi awan penyebab hujan. Jika kondisi alam memungkinkan maka akan terjadi presipitasi baik itu berupa hujan, hujan salju dan sebagainya. Sebagian kecil air akan diuapkan kembali sebelum sampai ke permukaan bumi. Air yang jatuh di permukaan tanah sebagian akan mengalir sebagai “overland flow” yang kemudian menjadi “surface run-off”, sedangkan yang lainnya akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan menguap (Soemarto, 2005).
          Apabila kondisi tanah memungkinkan sebagian air terinfiltrasi akan mengalir secara horisontal sebagai “interflow”, sebagian lagi akan tinggal di dalam massa tanah sebagai “soil moisture content” dan sisanya akan mengalir secara vertikal yang kemudian menjadi air tanah (Soemarto, 2005).
2.2.    Presifitasi
          Presipitasi adalah peristiwa jatuhnya air/es dari atmosfer ke permukaan bumi dan atau laut dalam bentuk yang berbeda. Hujan di daerah tropis (termasuk Indonesia) umumnya dalam bentuk air dan sesekali dalam bentuk es pada suatu kejadian ekstrim, sedangkan di daerah subtropis dan kutub hutan dapat berupa air atau salju/es. Besarnya curah hujan adalah volume air yang jatuh pada suatu areal tertentu. Besarnya curah hujan dapat dimaksudkan untuk satu kali hujan atau untuk masa tertentu seperti perhari, perbulan, permusim atau pertahun (Soemartono, 2012).  
          Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata diseluruh daerah yang bersangkutan. Distribusi curah hujan adalah berbeda-beda sesuai dengan jangka waktu yang ditinjau dari curah hujan tahunan, curah hujan bulanan, curah hujan harian dan curah hujan perjam. Harga-harga yang diperoleh ini dapat digunakan untuk menentukan prospek dikemudian hari dan akhirnya perancangan sesuai dengan tujuan yang dimaksud (Sosrodarsono, 2007).
2.3.    Infiltrasi
          Infiltrasi adalah proses aliran air masuk ke dalam tanah yang umumnya  berasal dari curah hujan, sedangkan laju infiltrasi merupakan jumlah air yang masuk ke dalam tanah persatuan waktu. Proses ini merupakan bagian yang sangat penting dalam daur hidrologi yang dapat mempengaruhi jumlah air yang terdapat dipermukaan tanah, dimana air yang terdapat dipermukaan tanah akan masuk ke dalam tanah kemudian mengalir ke sungai. Air yang dipermukaan tanah tidak semuanya mengalir ke dalam tanah, melainkan ada sebagian air yang tetap tinggal di lapisan tanah bagian atas (top soil) untuk kemudian diuapkan kembali ke atmosfer melalui permukaan tanah atau soil evaporation (Asdak,2007).
          Infiltrasi adalah air hujan atau air irigasi yang melalui permukaan tanah dan membasahi bagian tanah yang relatif kering merupakan salah satu proses alamiah dasar (Marsall, 2005).
          Proses masuknya air secara vertikal kedalam tanah atau Infiltrasi sangat mempengaruhi ketersediaan sumber daya air dalam tanah. Banyaknya air persatuan waktu yang masuk melalui permukaan tanah disebut laju infiltrasi (infiltration rate) dinyatakan dalam mmh-1 atau cmh-1 dimana laju Infiltrasi dapat diperbesar dengan mempengaruhi salah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi (Arsyad, 2006).
Aryono  (2004), menjelaskan bahwa  infiltrasi  air  hujan  biasanya  diikuti genangan air di permukaan tanah. Banyaknya air yang terinfiltrasi dalam satu hari hanya  beberapa  sentimeter  dan  jarang  sampai  membuat  tanah  pada  lapisan  yang dalam  menjadi  jenuh  semua.  Ketika  hujan  berhenti,  air  gravitasi  yang  tersisa  di dalam  tanah  terus  bergerak  ke  bawah  dan  waktu  tersebut  air  diambil  di  dalam ruang pori secara kapiler. Hal ini dikuatkan oleh Asdak (2006)  yang menyatakan bahwa proses terjadinya infiltrasi disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi bumi dan gaya kapiler tanah.
 Laju air infiltrasi dipengaruhi oleh gaya gravitasi dan dibatasi oleh  diameter  pori  tanah.  Di  bawah  pengaruh  gaya  gravitasi,  air  hujan  mengalir tegak lurus ke dalam tanah melalui profil tanah. Gaya kapiler bersifat mengalirkan air  tersebut  tegak  lurus  ke  atas,  ke  bawah,  dan  ke  arah  horisontal.  Pada  tanah dengan pori-pori berdiameter besar, gaya ini dapat diabaikan pengaruhnya dan air mengalir  ke  tanah  yang  lebih  dalam  yang  dipengaruhi  gaya  gravitasi.  Dalam perjalanannya, air mengalami penyebaran ke arah lateral akibat gaya tarik kapiler tanah, terutama ke arah pori-pori yang lebih sempit. Secara  teoritis,  air  dapat  mengisi  semua  pori-pori  dalam  tanah.  Oleh karena  itu,  porositas  adalah  potensi  maksimum  volumetrik  suatu  tanah.  Pada prakteknya kelembaban tanah volumetrik dapat mencapai nilai porositas jika gaya gravitasi mencapai batas drainase dengan kecepatan tinggi dan kelembaban berada di bawah batas porositas (Davie, 2008).
          Subagyo (2008) menyatakan bahwa infiltrasi beragam, secara terbalik dengan lengas tanah. Hal ini terjadi dalam tiga cara yaitu :
a.         Kandungan air yang meningkat mengisi ruang pori dan mengurangi kapasitas tanah untuk infiltrasi air selanjutnya,
b.         bila hujan membasahi suatu permukaan tanah yang kering, gaya kapiler yang kuat diciptakan yang cenderung untuk menarik air kedalam tanah dengan laju yang jenuh lebih tinggi dibandingkan laju yang dihasilkan dari gaya gravitasi saja,
c.          meningkatkan air tanah yang menyebabkan pengembangan koloid dan mengurangi ruang pori-pori.
2.4.    Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi
          Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu :
a.         Tekstur tanah
Tekstur tanah menunjukkan perbandingan butir-butir pasir (2mm-50µ), debu (50-2µ), dan liat (<2µ) didalam tanah. Kelas tekstue tanah dibagi kedalam dua belas kelas: pasir, pasir berlempung, lempung berpasir lempung liat berdebu, liat berpasir, liat berdebu, liat (Hardjowigeno, 2008).
Berdasaran ukurannya bahan padatan tanah digolongkan menjadi tiga partikel atau juga disebut sebagai pesarat penyusun tanah yaitu pasir, debu dan liat, tanah berpasir yaitu tanah yang kandungan pasir >70 % porositasnya rendah (<40 %), sebagian besar ruang pori berukuran besar, sehingga aerasenya baik, daya hantar air cukup tetapi kemampuan menahan air dan zat hara rendah. Tanah disebut bertekstur liat jika kandungan liatnya >35%, porositasnya relatif tinggi (60 %), tetapi sebagian merupakan pori-pori kecil daya hantar air sangat lambat dan sirkulasi udara kurang lancar (Islami, 2009).
Pada tekstur tanah pasir laju infiltrasi akan sangat cepat, pada tekstur lempung laju infiltrasi adalah sedang sehingga cepat dan pada tekstur liat laju infiltrasi tanah akan lambat (Sarief,2009)
Hasibuan (2005) menyatakan ada beberapa kelas klasifikasi tekstur tanah yaitu :
Nama Tekstur
Pasir (%)
Debu (%)
Liat (%)
Pasir
Lempung liat berpasir
Pasir berlempung
Lempung berpasir
Lempung
Lempung berdebu
Debu
Lempung liat berdebu
Lempung berliat
Liat berpasir
Liat berdebu
Liat
85-100
45-80
70-90
43-80
23-52
0-50
0-20
0-20
20-45
45-65
0-20
0-45
0-15
0-28
0-39
0-50
28-50
50-80
88-100
40-73
15-53
0-20
40-60
0-40
0-10
20-35
10-15
0-20
7-27
0-27
0-12
27-40
27-40
35-45
40-60
40-100

b.         Kerapatan massa (Bulk Dencity Tanah)
          Kerapatan massa adalah suatu ukuran berat yang memperhitungkan suatu volume tanah. Kerapatan massa ditentukan, baik oleh banyaknya pori, maupun oleh butir-butir tanah padat. Tanah yang lepas dan bergumpal mempunyai berat persatuan volume (kerapatan massa) rendah dan tanah yang lebih tinggi kerapatan massanya (Buckman, 2008).
          Semakin tinggi kepadatan tanah maka infiltrasi semakin kecil, Kepadatan tanah ini dapat disebabkan oleh adanya pengaruh benturan-benturan hujan pada permukaan tanah. Tanah yang ditutupi oleh tanaman biasanyamempunyai laju infiltrasi lebih besar dari pada tanah yang terbuka (Sarief, 2005).
          Hakim (2007) menyatakan bahwa kerapatan isi adalah berat persatuan volume tanah kering oven biasanya ditetapka sebagai g/m3. Contoh tanah yang ditetapkan untuk menentukan berat jenis palsu harus diambil secara hati-hati dari dalam tanah, tidak boleh merusak struktur asli tanah.
Kerapatan isi = berat tanah kering oven (gr)
                             Volume tanah (cm3)

c.         Vegetasi
          Arsyad (2006), menjelaskan bahwa penutupan tanah dengan vegetasi dapat meningkatkan laju infiltrasi suatu lahan, hal ini didukung pula dalam penelitian Utaya (2008), dimana perbedaan kapasitas infiltrasi pada berbagai penggunaan lahan menunjukkan bahwa faktor vegetasi memiliki peran besar dalam menentukan kapasitas infiltrasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kapasitas infiltrasi pada tanah bervegetasi akan cenderung lebih tinggi dibanding tanah yang tidak bervegetasi.       
d.         Struktur tanah
          Struktur tanah adalah suatu agregat-agregat primer tanah secara alami menjadi bentuk yang dibatasi oleh bidang-bidang. Struktur tanah dapat dinilai dari stabilitas agregat, kerapatan lindak, dan porositas tanah. Struktur tanah ditentukan oleh mineral-mineral liat, oksida-oksida besi dan mangan serta bahan organik koloidal gum yang dihasilkan oleh jasad renik (Adiningsih, 2004).
          Bentuk struktur tanah yang membulat (granular dan remah) menghasilkan tanah dengan daya serap yang tinggi sehingga air muda meresap kedalam tanah. Struktur tanah remah (tidak mantap), sangat muda hancur oleh pukulan air hujan menjadi butir-butir halus, sehingga menutupu pori-pori tanah. Akibatnya air infiltrasi terhambat dan aliran permukaan meningkat (Adiningsih, 2004).
e.         Barat Isi
Berat isi tanah merupakan salah satu sifat fisik tanah yang sering ditetapkan karena berkaitan erat dengan perhi-tungan penetapan sifat-sifat fisik tanah lainnya, seperti retensi air (pF), ruang pori total (RPT), coefficient of linierextensibility (COLE), dan kadar air tanah. Data sifat-sifat fisik tanah tersebut diperlukan dalam perhitungan penambahankebutuhan air, pupuk, kapur, dan pembenah tanah padasatuan luas tanah sampai kedalaman tertentu. Berat isi tanahjuga erat kaitannya dengan tingkat kepadatan tanah dan kemampuan akar tanaman menembus tanah (Agus, 2006).
          Agus (2006) mengemukakan bahwa, definisi berat isi tanah adalah berat tanah utuh (undisturbed) dalam keadaan kering dibagi dengan volume tanah, dinyatakan dalam g/cm3 (g/cc). Nilai berat isi tanah sangat bervariasi antara satu titik dengan titik lainnya karena perbedaan kandungan bahan organik, tekstur tanah, kedalaman tanah, jenis fauna tanah, dan kadar air tanah. Metode untuk menetapkan berat isi tanah yang digunakan dilaboratorium fisika tanah Balai Penelitian Tanah (Balit tanah), bogor adalah metode gravimetri melalui pengambilan contoh tanah utuh menggunakan ring sample (tabung kuningan) dan bongkahan tanah utuh (clod) dengan berat kurang lebih 100 g.
          Penetapan berat isi tanah dilakukan dengan menggunakan tanah utuh yang berasal dari ring sample dan agregat tanah utuh berupa bongkahan. Bila menggunakan tanah dari ring sample maka metodenya disebut dengan metode ring, sedangkan bila tanah berasal dari bongkahan tanah utuh disebut metode bongkahan tanah. Kedua metode penetapan berat isi tanah tersebut menggunakan bahan dan alat yang sedikit berbeda (Agus, 2006).

f.         Bahan organik tanah
          Bahan organik yang terkandung oleh tanah hanya sedikit, kurang lebih hanya 3 % sampai 5 % dari berat tanah dari topsoil tanah minelar yang mewakili. Bahan organik berperan sebagai pembentuk butir (granulator) dari butir-butir mineral yang menyebabkan terjadinya keadaan gembur pada tanah produktif. Bahan ini biasaya berwarna hitam atau coklat bersifat koloida. Daya menahan air dari ion-ion hara jauh lebih besar dari pada lempung (Buckman, 2008).
2.5.    Lahan Kering
          Lahan  kering  pada  umumnya  identik  dengan  kemiskinan  atau  daerah  tertinggal. Lahan  kering  dapat menjadi  karunia  dan  dapat  pula  menjadi  suatu  bencana  jika  tidak  disikapi  dengan arif.  Keterbatasan  harus  menjadi  faktor  pendorong  untuk  kreatif  dan  inovatif  agar diperoleh teknologi yang mampu mengatasi masalah, agar masalah tersebut menjadi tidak  berkepanjangan.  Faktor  pembatas  pengembangan  pertanian  di  lahan  kering adalah ketersediaan air tanah  yang disebabkan oleh pola iklim dan pemilihan jenis yang terbatas.  Faktor pembatas tersebut harus disikapi dengan arif melalui inovasi teknologi  yang  bersifat  jangka  pendek  dan  jangka  panjang.  Misal  menghasilkan galur-galur lahan kering dan menggunakan teknologi biocharcoal (Minardi, 2009).
          Lahan kering merupakan salah satu agroekosistem yang mempunyai potensi besar untuk usaha pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura (sayuran dan buah-buahan) maupun tanaman tahunan dan peternakan. Tidak semua lahan kering sesuai untuk pertanian, terutama karena adanya  faktor  pembatas tanah seperti lereng yang sangat curam atau solum tanah dangkal dan berbatu, atau termasuk kawasan hutan. Dari total luas 148 juta ha, lahan kering yang sesuai untuk budi daya pertanian hanya sekitar 76,22 juta ha (52%), sebagia besar terdapat di dataran rendah (70,71 juta ha atau 93%) dan sisanya di dataran tinggi (Agus, 2006).
2.6.    Lahan Sawah
          Pengelolaan air sangat penting dan merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di lahan sawah. Produksi padi sawah akan menurun jika tanaman padi menderita cekaman air (Water Stress). Gejala umum akibat kekurangan air antara lain daun padi menggulung, daun terbakar, anakan padi berkurang,tanaman kerdil, pembungaan tertunda dan biji hampa (Korten, 2005).
          McCaskill (2005) menyatakan bahwa pengelolaan air dilahan sawah tidak hanya menyangkut sistem irigasi, tetapi juga mencamput sistem drainase pada saat tertentu dibutuhkan. Baik untuk mengurangi kuantitas air maupun mengganti air yang lama dengan air irigasi baru sehingga memberikan peluang terjadinya sirkulasi oksigen dan hara. Pengelolaan air untuk sawah lama dengan sawah baru harus dibedakan, pada sawah lama umumnya telah terbentuk lapisan kadar air dibawah zona pengolahan tanah yang sering disebut dengan lapisan tapak bajak (plow Pan). Sedangkan pada sawah baru lapisan ini belum terbentuk, dari segi kebutuhan air untuk irigasi, sawah lama akan lebih efisien dibanding sawah bukaan baru karena sedikit terjadi kehilangan air melalui perkolasi. Di indonesia, sawah dapat dikatagorikan menjadi tiga antara lain, sawah beririgasi, sawah tadah hujan dan sawah rawa (lebak dan pasang surut). Pengolaan air pada ketiga sawah tersebut sangat berbeda, karena perbedaan kondisi hidrologi dan kebutuhan air.
2.7.    Model Horton
             Horton menggambarkan keadaan infiltrasi, ketika hujan berhenti, perbaikan kapasitas infiltrasi dimulai. Reaksi angin dan suhu yang berbeda disekitar permukaan tanah membantu dalam proses membuka kembali pori-pori tanah, penyusutan partikel koloid mendominasi, pelubangan atau perbaikan pori-pori tanah yang dilakukan oleh cacing tanah dan serangga dan kapasitas infiltrasi kembali kenilai maksimumnya, biasanya membutuhkan waktu satu hari atau kurang untuk tanah berpasir, meskipun beberapa hari dapat diperlukan untuk tekstur liat dan tanah dengan tekstur halus (Beven, 2004).
          Metode infiltrasi Horton mempunyai tiga paremeter yang menentukan proses infiltrasi dalam tanah yaitu parameter K, infiltrasi awal (fo) dan infiltrasi konstan (fc). Nilai parameter fc ini bisa diprediksi dari nilai Konduktivitas Hidrolik Jenuh (Beven, 2004).
          Beven (2004) menjelaskan bahwa  setelah diketahui semua parameter yang digunakan dalam metode infiltrasi Horton, maka laju infiltrasi untuk berbagai waktu t dapat dihitung dengan menggunakan persamaan.
 ft=fc+(f0-fc)*e-Kt.......................................................................................      (1)        
Ket :
f(t)       :  Kapasits infiltrasi pada waktu t (mm/menit)
f0            :  Kapasits infiltrasi awal (mm/menit)
fc             :  Kapasits infiltrasi final (mm/menit)
k          :  Konstanta (menit -1)
t           :  Waktu (menit)
f = fc + (f0 – fc) e –Kt.................................................................................      (2)        
f - fc += (f0 – fc) e –Kt...............................................................................      (3)
sisi kanan dan kiri dilogaritmakan,
log (f – fc) = log (f0 –fc) – kt log e................................................................. (4)        
log (f – fc) - log (f0 –fc) = - kt log e...........................................................      (5)        
t =( )[(f0 –fc) – log (f0 –fc)]..............................................................      (6)        
t =( ) log(f –fc) ( ) log (f0 –fc) ...............................................      (7)
diubah dalam bentuk linier
y = mx + c...............................................................................................      (8)                    
y = t  .......................................................................................................      (9)        
m = ...............................................................................................      (10)
x = log (f0 – fc).........................................................................................      (11)      
          Untuk mengetahui apakah metode infiltrasi yang digunakan benar-benar mendekati daerah yang diteliti harus diketahui hubungan antara laju infiltrasi aktual dengan laju infiltrasi Horton dengan uji korelasi dengan p<0.05 (menunjukkan keeratan hubungan) dan uji regresi (menunjukkan pengaruh sebab akibat) (Beven, 2004).
2.8.    Tanaman Padi (Oryza sativa L.)
          Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan rumput berumpun. Tanaman pangan menyebar hampir secara merata di seluruh wilayah Indonesia meskipun sentra beberapa jenis tanaman pangan terdapat di daerah tertentu. Hal ini disebabkan oleh kesesuaian lahan dan kultur masyarakat dalam mengembangkan jenis tanaman pangan (Purwono, 2007).
Faktor yang mempengaruhi karakteristik dari tanaman padi adalah varietas unggul. Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang andal dan cukup besar sumbangannya dalam meningkatkan produksi padi nasional, baik dalam kaitannya dengan ketahanan pangan maupun peningkatan pendapatan petani. Varietas unggul telah memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan produksi padi nasional. Hingga saat ini varietas unggul tetap lebih besar sumbangannya dalam peningkatan produktivitas dibandingkan dengan komponen teknologi lainnya (Sembiring, 2011).

2.9.    Tanaman Ubi Kayu (Manihot esculenta)
          Ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan sumber bahan makanan ketiga di
Indonesia setelah padi dan jagung. Dengan perkembangan teknologi, ubi kayu dijadikan bahan dasar pada industri makanan seperti sumber utama pembuatan pati. Selama ini produksi ubi kayu yang berlimpah sebagian besar digunakan sebagai bahan baku industri tapioka. Industri tapioka merupakan industri skala besar yang paling berkembang di Lampung (Sajilata, 2007).
          Berdasarkan sifat fisik dan kimia, ubi kayu merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis ubi kayu yang ditanam. Sifat fisik dan kimia ubi kayu sangat penting artinya untuk pengembangan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Karakterisasi sifat fisik dan kimia ubi kayu ditentukan olah sifat pati sebagai komponen utama dari ubi kayu. Ubi kayu tidak memiliki periode matang yang jelas karena ubinya terus membesar (Rubatzky, 2010).
          Akibatnya, periode panen dapat beragam sehingga dihasilkan ubi kayu yang memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda – beda. Sifat fisik dan kimia pati seperti bentuk dan ukuran granula, kandungan amilosa dan kandungan komponen non pati sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, kondisi tempat tumbuh dan umur tanaman (Moorthy, 2003).

BAB III
PMETEDOLOGI PENELITIAN

3.1.    Tempat Dan Waktu
           Praktikum ini telah dilakukan di Uma Beringin, Kerato dan di Desa Pelat Kecamatan Unter Iwes pada hari Sabtu-Minggu tanggal 14-15 Juni 2014.
3.2.    Alat Dan Bahan
a.      Alat
Ø  double ring infiltrometer
Ø  polpen
Ø  Buku
Ø  Ember
Ø  Meteran
Ø  stopwatch
b.      Bahan
Ø  Air
Ø  tanah
3.3.   Metode Pengambilan Sampel
          Prosedur pemasangan infiltrometer meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
a.    Meletakkan salah satu cincin dengan ujung runcing dibagian bawah dan pastikan penampang cincin pada level datar,
b.    Memasang piringan tutup diatas cincin dan memastikan tepat dipusat cincin, pukul tutup cincin dengan martil sampai kedalaman tertentu sehingga dapat mencegah kebocoran air keluar cincin,
c.    Meletakkan cincin silinder lainnya secara tepat pada pusat yang sama dengan cincin pertama,
d.    Usahakan cincin silinder tetap tegak dengan level penampang datar, setelah ditancapkan keadaan cincin miring, cincin yang telah terpasang dicabut kembali,
e.    Setelah ditancapkan cincin infiltrometer berubah bentuk, mencabut cincin infiltrometer dari tanah, melakukan kalibrasi dan mengulangi langkah-langkah pemasangannya,
f.     Setelah pengukuran selesai lalu pengeluarkan cincin dari tanah dengan memukul bagian samping secara perlahan.
3.3.1.  Metode Pengukuran Infiltrasi (Double Ring Infiltrometer)
            Pengukuran infiltrasi dari infiltrometer cincin ganda dapat dilakukan dengan memilih salah satu cara sebagai berikut :
Ø  Pengukuran volume
a.    Mencatat posisi waktu pada saat mulai pengukuran pada t =0, dan mengisikan pada kolom 1 formulir pengukuran infiltrasi cincin ganda,
b.    Mengukur volume air yang ditambahkan pada cincin dalam untuk menjaga tinggi muka air pada tiap selang waktu,
c.    Mengukur volume air yang ditambahkan pada ruang antar cincin  untuk menjaga tinggi muka  air pada tiap selang waktu,
d.    Mencatat waktu sejak mulai pengukuran (t = 0), selang waktu ditentukan. Umumnya tiap 1 menit pada 10 menit pertama, tiap 2 menit  pada menit ke 10 sampai dengan menit ke 30, tiap 5 menit sampai dengan 10 menit pada menit ke 30 sampai dengan menit ke 60. Selanjunya tiap 15 menit sampai dengan 30 menit sampai diperoleh laju yang relatif konstan. Selang waktu ditentukan juga berdasarkan laju infiltrasi  yang terukur atau berdasarkan pengalaman lapangan pelaksananya,
e.    Bagian atas cincin  ditutup untuk menghindari penguapan selama selang pengukuran,
f.     Menghitng nilai f dari data volume air yang ditambahkan pada cincin infiltrometer tiap selang waktu pengukuran menjadi laju infiltrasi dengan persamaan,
f =  ..........................................................      (1)
Ket :
f        =   Laju infiltrasi (cm/jam)
C   =  Volume air yan ditambahkan pada cincin infiltrometer untuk                                      menjaga muka air konstan tiap selang waktu (cm3)
C       =  Luas bidang cincin dalam atau bidang antar cincin (cm2)
     =   Selang waktu pengukuran (menit)
g.    Mencatat hasil perhitungan laju infiltrasi dari cincin dalam pada formulir pengukuran.
Ø  Pengukuran tinggi muka air
a.    Mencatat posisi waktu pada saat mulai pengukuran pada t =0, dan mengisikan pada kolom 1 formulir pengukuran infiltrasi cincin ganda,
b.    Mengukur perubahan tinggi muka air pada cincin dalam tiap selang waktu, mencatat pada formulir pengukuran kolom ke 6,
c.    Mengukur perubahan tinggi muka air pada ruang antar cincin tiap selang waktu, mencatat pada formulir pengukuran kolom ke 7,
d.    Setelah perubahan tinggi muka air dicacat dan menambahkan air sampai mencapai penanda tinggi muka air,
e.     Mencatat waktu sejak mulai pengukuran (t = 0), selang waktu ditentukan. Umumnya tiap 1 menit pada 10 menit pertama, tiap 2 menit  pada menit ke 10 sampai dengan menit ke 30, tiap 5 menit sampai dengan 10 menit pada menit ke 30 sampai dengan menit ke 60. Selanjunya tiap 15 menit sampai dengan 30 menit sampai diperoleh laju yang relatif konstan. Selang waktu ditentukan juga berdasarkan laju infiltrasi  yang terukur atau berdasarkan pengalaman lapangan pelaksananya,
f.     Bagian atas cincin ditutup untuk menghindari penguapan selama selang penguuran,
g.    Menghitug nilai f dari data perubahan tinggi muka air tiap selang waktu pengukuran menjadi laju infiltrasi dengan persamaan,
f =  ......................................................      (2)
Ket :
f        =   Laju infiltrasi (cm/jam)
C   =  Perubah tinggi muka air taip selang waktu (cm)
     =   Selang waktu pengukuran (menit)
h.    Mencatat hasil perhitungan laju infitrasi dari cincin dalam ,
i.      Untuk mengetahui nilai kapasitas infiltrasi dalam satua m/s, nilai f diperoleh dari persamaan (1) dan (2) dikalikan nilai konversi sebagai berikut,
F(m/s) = )*10-4 *f (cm/jam)...............................................................     (3)
3.3.2.   Metode Pengukuran Contoh Tanah
Pengambilan contoh tanah dimaksud untuk memperoleh data karakteristik tanah yang tidak dapat diperoleh langsung dari pengamatan lapangan. Lokasi pengambilan contoh tanah harus dipilih sedemikian rupa sehingga dapat mewakili area yang diambil contoh tanahnya.
Penetapan sifat fisik dan kimia tanah dilaboratorium memerlukan tiga macam contoh tanah yaitu : Contoh Tanah Utuh (undisturbed soil sample) untuk penetapan bobot isi (bulk density), susunan pori tanah, pF, dan permeabilitas tanah,
3.3.2.1.   Pengambilan Contoh Tanah Utuh
              Contoh Tanah Utuh (undisturbed soil sample) untuk penetapan bobot isi (bulk density), susunan pori tanah, pF, dan permeabilitas tanah.
              Cara kerja dari pengambilan contoh tanah utuh yaitu :
a.   Meratakan dan membersihkan lapisan permukaan tanah yang akan diambil contohnya,
b.   Kemudian mencangkul tanah tersebut dengan menggunakan cangkul dan membiarkan tanah hasil cangkulan dalam bentuk bongkahan yang utuh,
c.   Mengambil bongkahan yang masih utuh, kemudian membersihkan dengan menggunakan kuas,
d.   Bongkahan yang telah dibersihkan kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik dan mengikat plastik menggunakan karet tali.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Karakteristik Fisik Tanah
Tabel 1. Persentasi Karakteristik Fisik Tanah
Titik Sampel
Persentase
Tekstur
Berat Isi
Pasir
Debu
Liat
LS 1
15 %
25%
70%
Liat
0,04
LS 2
25%
10%
65%
LK 1
15%
60%
25%
Lempung Berdebu
0,05
LK 2
25%
75%
10%

4.1.1.   Tekstuk Tanah
            Tekstur tanah mempengaruhi laju infiltrasi suatu lahan. Tekstur tanah pada dasarnya berhubungan dengan keadaan pori tanah. Jumlah dan ukuran pori yang menetukan adalah jumlah pori-pori yang berukuran besar. Makin banyak pori-pori besar maka kapasitas infiltrasi makin besar pula. Atas dasar ukuran pori tersebut, liat kaya akan pori halus dan miskin akan pori besar. Sebaliknya fraksi pasir banyak mengandung pori besar dan sedikit pori halus, dengan demikian kapasitas infiltrasi pada tanah pasir jauh lebih besar dari pada tanah liat. Pengaruh kadar air tanah dan angka pori merupakan besarnya kadar air tanah dan angka pori tanah sangat mempengaruhi laju infiltrasi. Besarnya kadar air tanah akan mengurangi kapasitas infiltrasi, besarnya angka pori akan mempercepat laju infiltrasi (Achmad, 2011).

4.1.2.   Struktur Tanah
            Struktur tanah adalah suatu agregat-agregat primer tanah secara alami menjadi bentuk yang dibatasi oleh bidang-bidang. Struktur tanah dapat dinilai dari stabilitas agregat, kerapatan lindak, dan porositas tanah. Struktur tanah ditentukan oleh mineral-mineral liat, oksida-oksida besi dan mangan serta bahan organik koloidal gum yang dihasilkan oleh jasad renik (Adiningsih, 2004).
4.2.     Laju Inltrasi
4.2.1.   Pengukuran
            Hasil Tabel 2. Analisis Terhadap Pengukuran Infiltrasi dilapangan dapat diduga Parameter-Paramer Laju Infiltrasi sebagai berikut :
Rata-Rata Parameter Pengukuran Laju Infiltrasi
Titik Sampel
Parameter
Fo
Fc
T
K
LS
168,5
157,5
138,15
3,83
LK
705,5
231,5
4,5
1,525

Hasil Tabel 3. Rata—rata pengukuran lapangan dan pendugaan laju infiltrasi menggunakan model Horton.
Titik Sampel
Besar laju infiltrasi (cm/jam)
Volume (cm3)
Klasifikasi infiltrasi
Observasi lapangan
Model horton


LS
169,5
230,13
186,44
Lambat
LK
705,5
743,25
594,255
Cepat

4.3.     Kurva Infiltrasi
          Kurva kafasitas infiltrasi merupakan kurva hubungan antara infiltrability dan waktu. Infiltrabilitas tunak (stedy state) tercapai saat infiltrasi konstan (fc) menunjukkan banyaknya air yang dapat terinfiltrasi ke dalam tanah per satuan waktu. 
Kurva Infiltrasi Lahan Basah Blok 1
Kurva Infiltrasi Lahan Basah Blok 2



 

Kurva Infiltrasi Lahan Kering Blok 1
 
Kurva Infiltrasi Lahan Kering Blok 2

4.4.     Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat dilihat pada (Tabel.1) tentang persentasi karakteristik fisik tanah. Dimana pada lahan sawah (LS) memiliki tekstur liat dan memiliki berat isi (BI) sebanyak 0,04. Sedangkan pada lahan kering (LK) memilik tekstur lempung berdebu dan memiliki berat isi (BI) sebanyak 0,05 dan memiliki pori-pori besar sehingga air dapat bergerak lebih cepat yang dapat menyebabkan laju infiltrasi cepat.
Pada (Tabel. 2) hasil rata-rata pengukuran parameter tentang laju infiltrasi dimana pada lahan sawah (LS) memiliki F Observasi sebanyak 168,5 mm/jam, Fc sebanyak 157,5 cm/jam, waktu yang diperlukan (t) adalah 138,15 jam dan K sebanyak 3,83. Pada lahan kering (LK) memiliki F Observasi sebanyak 705,5 mm/jam, Fc sebanyak 231,5 cm/jam, waktu yang diperlukan (t) adalah 4,5 jam dan K sebanyak 1,525.
          Berdasarkan parameter-parameter pengukuran laju infiltrasi dapat diketahui pendugaan besar laju infiltrasi dan volume infiltrasi (Tabel.3) rata-rata besar laju infiltrasi menurut pendugaan horton pada lahan sawah (LS), obserpasi lapangan  sebesar 169,5, model horton sebesar 230,13 dengan volume air infiltrasi 186,44 cm3. Sedangkan pada lahan kering (LK), obserpasi lapangan  sebesar 705,5, model horton sebesar 743,25 dengan volume air infiltrasi 594,255 cm. Berdasarkan jenis penggunaan lahan  maka laju infiltrasi tertinggi berada pada lahan kering (LK)  dengan klasifikasi laju infiltrasi yang cepat dan penggunaan lahan terendah berada pada lahan sawah (LS) dengan klasifikasi laju infiltrasi yang lambat.
Pada kurva infiltrasi lahan basah blok 1 pertemuan laju infitrasi berada  pada K4 dengan f observasi 4,00 mm/jam dan model Horton 7,52 mm/jam, pada lahan basah blok 2 pertemuan laju infiltrasi berada pada K4 dengan f observasi 2,00 mm/jam dan model Horton 6,39 mm/jam. Sedangkan pada lahan kering blok 1 pertemuan laju infiltrasi berada pada K4 dengan f observasi 119,00 mm/jam dan model Horton 115,52 mm/jam, dan lahan kering blok 2 pertemuan laju infiltrasi berada pada K4 dengan f observasi 90,00 mm/jam dan model Horton 95,83 mm/jam.
          Dari hasil analisa terhadap laju infiltrasi, menunjukkan bahwa nilai laju infiltrasi bertambah. Laju infiltrasi diawali dengan nilai yang rendah kemudian menjadi nilai tertinggi dan nilai tetap (konstan), dan setelah mencapai nilai konstan yang menandai peralihan dari permukaan bumi yang bergerak cepat kedalam air dan bergerak lambat kedalam tanah.
          Hal ini sejalan pendapat (Suripin, 2004) yang menyatakan bahwa laju infiltrasi terjadi akibat tarikan hisapan matrik dan gravitasi, dengan masukknya air lebih dalam dan makin dalam profil tanah yang basah maka semakin lemah tarikan hisapan matrik sebagai gaya  gravitasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.    Kesimpulan
          Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik fisik tanah pada lahan sawah (LS) memiliki tekstur liat dan memiliki berat isi (BI) sebesar 0,04 dan pada lahan kering (LK) memiliki tekstur lempung berdebu dan memiliki berai isi (BI) sebesar 0,05. Sedangkan pada laju infitrasi pada lahan sawah (LS) memiliki klasifikasi yang lambat, dan pada lahan kering (LK) memiliki klasifikasi yang cepat.
5.2.    Saran
          Saran saya dalam praktikum ini yaitu asisten dosen (Coas)  harus terlebih dahulu memberi tahu pada mahasiswa tentang tata cara pembahasan yang harus dibahas oleh mahasiswa, agar mahasiswa tidak terlalu sibuk dengan laporan ini terus.
 

















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.    Kesimpulan
          Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik fisik tanah pada lahan sawah (LS) memiliki tekstur liat dan memiliki berat isi (BI) sebesar 0,04 dan pada lahan kering (LK) memiliki tekstur lempung berdebu dan memiliki berai isi (BI) sebesar 0,05. Sedangkan pada laju infitrasi pada lahan sawah (LS) memiliki klasifikasi yang lambat, dan pada lahan kering (LK) memiliki klasifikasi yang cepat.
5.2.    Saran
          Saran saya dalam praktikum ini yaitu asisten dosen (Coas)  harus terlebih dahulu memberi tahu pada mahasiswa tentang tata cara pembahasan yang harus dibahas oleh mahasiswa, agar mahasiswa tidak terlalu sibuk dengan laporan ini terus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar