Minggu, 20 Juli 2014

praktikum pengelolaan air tentang neraca air



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

          Jumlah air di suatu luasan tertentu hamparan permukaan bumi dipengaruhi oleh masukan (input) dan keluaran (out put) yang terjadi. Pertimbangan antara masukan dan keluaran air disuatu tempat dikenal sebagai neraca air (water balance) dan nilainya berubah-ubah dari waktu kewaktu. Penyusunan neraca air di suatu tempat dan pada periode dimaksudkan untuk mengetahui jumlah netto air yang diperoleh sehingga dapat di upayakan pemanfaatan sebaik mungkin.
Kebenaran suatu perhitungan neraca air sangat tergantung pada pertambahan waktu yang dipertimbangkan. Sebagai patokan, evapotranpirasi tekanan normal dapat dihitung secara meyakinkan sebagai perbedaan antara hujan dan aliran rata-rata jangka panjang, karena perubahan simpanan dalam periode tahunan yang panjang tak dapat dihitung (Nasir, 2008).
          Air merupakan bahan alami yang secara mutlak diperlukan tanaman dalam jumlah cukup dan pada saat yang tepat. Kelebihan ataupun kekurangan air mudah menimbulkan bencana. Tanaman yang mengalami kekeringan akan berdampak penurunan kualitas ataupun gagal panen. Kelebihan air dapat menimbulkan pencucian hara, erosi ataupun banjir yang memungkinkan gagal panen. Pengukuran langsung atas penguapan pada kondisi lapangan tidaklah layak bila dibandingkan dengan apa yang dapat dilakukan untuk mengukur tinggi permukaan air sungai, curah hujan dan sebagainya. Sebagai konsekuensinya, berbagai teknik telah di buat untuk menentukan atau memperkirakan pengangkutan uap air kepermukaan air, pendekatan yang paling nyata menyangkut perhitungan neraca air (Abujamin, 2008).
          Beberapa sifat tanah yang merupakan komponen-komponen neraca air, misalnya kapasitas menyimpan air (jumlah ruang pori), infiltrasi, kemantapan pori sangat dipengaruhi oleh macam-macam penggunaan lahan atau jenis dan susunan tanaman yang tumbuh di tanah tersebut (Abujamin, 2008).
1.2.     Tujuan
1.      Mahasiswa mampu menghitung curah hujan rata-rata bulanan dengan metode regresi, statistika dan ranking.
2.      Mahasiswa mampu menghitung dan menganalisis neraca air lahan bulanan dengan menggunakan metode thorthwaite



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.     Siklus Hidrologi
          Siklus Hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu, air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut (Suripin, 2004).
                         Gambar Siklus Hidrologi  Sumber : Suripin (2004)
          Suripin (2004) menjelaskan bahwa pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda : (a) Evaporasi / transpirasi – Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es. (b) Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah – Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan. (c) Air Permukaan – Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.
2.2.     Neraca Air
          Nasir (2008) menjelaskan bahwa neraca air (water balance) merupakan neraca masukan dan keluaran air disuatu tempat pada periode tertentu, sehingga dapat untuk mengetahui jumlah air tersebut kelebihan (surplus) ataupun kekurangan (defisit). Kegunaan mengetahui kondisi air pada surplus dan defisit dapat mengantisipasi bencana yang kemungkinan terjadi, serta dapat pula untuk mendayagunakan air sebaik-baiknya. Kesetimbangan air dalam suatu sistem tanah-tanaman dapat digambarkan melalui sejumlah proses aliran air yang kejadiannya berlangsung dalam satuan waktu yang berbeda-beda.
          Arsyad (2007) menjelaskan bahwa ada beberapa proses aliran air dan kisaran waktu kejadiannya yang dinilai penting adalah: (a) Hujan atau irigasi (mungkin dengan tambahan aliran permukaan yang masuk ke petak atau run-on) dan pembagiannya menjadi infiltrasi dan limpasan permukaan genangan di permukaan dalam skala waktu detik sampai menit. (b) Infiltrasi kedalam tanah dan drainasi (pematusan) dari dalam tanah melalui lapisan- lapisan dalam tanah atau lewat jalan pintas seperti retakan yang dinamakan by-pass flow dalam skala waktu menit sampai jam. (c) Drainasi lanjutan dan aliran bertahap untuk menuju kepada kesetimbangan hidrostatik dalam skala waktu jam sampai hari. (d) Pengaliran larutan tanah antara lapisan-lapisan tanah melalui aliran massa (mass flow). (e) Penguapan atau evaporasi dari permukaan tanah dalam skala waktu jam sampai hari. (f) Penyerapan air oleh tanaman dalam skala waktu jam hingga hari, tetapi sebagian besar terjadi pada siang hari ketika stomata terbuka. (g) Kesetimbangan hidrostatik melalui sistem perakaran dalam skala waktu jam hingga hari, tetapi hampir semua terjadi pada malam hari pada saat transpirasi nyaris tidak terjadi. (h) Pengendali hormonal terhadap transpirasi (memberi tanda terjadinya kekurangan air) dalam skala waktu jam hingga minggu. (i) Perubahan volume ruangan pori makro (dan hal lain yang berkaitan) akibat penutupan dan pembukaan rekahan (retakan) tanah yang mengembang dan mengerut serta pembentukan dan penghancuran pori makro oleh hewan makro dan akar.
          Konsep neraca air pada dasarnya menunjukkan keseimbangan antara  jumlah air yang masuk ke, yang tersedia di, dan yang keluar dari sistem (sub sistem) tertentu. Secara umum persamaan neraca air dirumuskan dengan  
  I     =  O ± ΔS     
dengan :
I   = masukan (inflow)
O = keluaran (outflow)
            Yang dimaksud dengan masukan adalah semua air yang masuk ke dalam sistem, sedangkan keluaran adalah semua air yang keluar dari sistem. Perubahan tampungan adalah perbedaan antara jumlah semua kandungan air (dalam berbagai sub sistem) dalam satu unit waktu yang ditinjau, yaitu antara waktu terjadinya masukan dan waktu terjadinya keluaran. Persamaan ini tidak dapat dipisahkan dari konsep dasar yang lainnya (siklus hidrologi) karena pada hakikatnya, masukan ke dalam sub sistem yang ada, adalah keluaran dari sub sistem yang lain dalam siklus tersebut (Sri Harto, 2005).
2.3.     Kelebihan Air Tanaman
          Aak (2005) menjelaskan bahwa kelebihan air pada tanaman biasanya terlihat atau terjadi ketika awal musim hujan (akhir musim kemarau) dan pada saat pertengahan musim hujan. Yang sangat berdampak bagi pertumbuhan tanaman dapat di lihat sebagai berikut :
a.      Awal musim hujan (akhir musim kemarau)
         Sinar matahari cukup banyak, suhu udara panas, kelembaban udara absolute (Ah) tinggi, kelembaban udara relatip (Rh) tinggi, hujan masih jarang terjadi, dan sumber air tanah maupun air permukaan sedikit. Dampak bagi tanaman yaitu proses transpirasi (proses pendinginan) terganggu karena tingginya nilai Rh. Keadaan ini diperparah dengan sulitnya proses pendinginan secara konduksi lewat daun, karena bahan panas pada fase musim ini juga tinggi. Akibatnya tanaman akan kepanasan, daun dan batang tanaman nampak layu meski masih nampak hijau. Kalau kondisi parah ranting dan daun akan menguning dan rontok.
b.      Pertengahan musim hujan.
          Ciri-cirinya yaitu sinar matahari terhalangi mendung, suhu udara turun, kelembaban udara absolute (Ah) turun / rendah, kelembaban udara relatip (Rh) tinggi, frekwensi hujan tinggi, dan sumber air tanah maupun air permukaan melimpah. Dampak bagi tanaman antara lain Kelembaban (Rh) tinggi pada suhu yang rendah merupakan kondisi ideal pertumbuhan spora jamur. Tanaman yang tidak sehat atau bagian tanaman yang tua menjadi rentan serangan jamur. Genangan-genangan air pada bagian batang, bonggol, dan daun (bagian-bagian yang kaya karbohidrat) cepat atau lambat akan diserbu jamur.
2.4.     Kekurangan Air Tanaman
          Kekurangan air mempengaruhi semua aspek pertumbuhan tanaman, yang meliputi proses fisiologi, biokimia, anatomi dan morfologi. Pada saat kekurangan air, sebagian stomata daun menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis. Selain menghambat aktivitas fotosintesis, kekurangan air juga menghambat sintesis protein dan dinding sel (Salisbury 2006).
          Tanaman yang mengalami kekurangan air secara umum mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal (Kurniasari 2010). Kekurangan air menyebabkan penurunan hasil yang sangat signifikan dan bahkan menjadi penyebab kematian pada tanaman (Salisbury, 2006).
          Mansfield (2008) menjelaskan bahwa respons tanaman yang mengalami kekurangan air dapat merupakan perubahan di tingkat selular dan molekular yang ditunjukkan dengan penurunan laju pertumbuhan, berkurangnya luas daun dan peningkatan rasio akar : tajuk. Tingkat kerugian tanaman akibat kekurangan air dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain intensitas kekeringan yang dialami, lamanya kekeringan dan tahap pertumbuhan saat tanaman mengalami kekeringan.
          Lie (2006) menjelaskan bahwa evaluasi toleransi tanaman terhadap kekurangan air dapat dilakukan dengan mengidentifikasi ciri-ciri morfologi, anatomi, dan fisiologi yang berkaitan erat dengan hasil produksi tanaman di lingkungan yang kekurangan air.

BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN

3.1.    Waktu Dan Tempat
          Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu 21 Juni 2014 di Fakultas Pertanian Universitas Sumbawa (UNSA) Sumbawa Besar.
3.2.    Alat Dan Bahan
·      Kalkulator
·      Komputer dengan program Sofware MS Excel
·      Bolpoin
·      Buku
·      Modul


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.    Hasil Pengamatan
Tabel 1. Menghitung Nilai CH Rata-Rata Dengan Metode Rekresi, Statistik dan Peluan (P>75%)
Bulan Juli
Urutan
Besar-Kecil
Ranking
Peluang
(%)
Tahun
CH
1980
150
260
1
5
1981
96
244
2
10
1982
100
230
3
15
1983
244
228
4
20
1984
120
220
5
25
1985
86
199
6
30
1986
162
165
7
35
1987
78
162
8
40
1988
69
150
9
45
1989
199
120
10
50
1990
94
120
11
55
1991
35
111
12
60
1992
220
100
13
65
1993
120
96
14
70
1994
165
94
15
75
1995
228
87
16
80
1996
111
86
17
85
1997
87
78
18
90
1998
260
69
19
95
1999
230
35
20
100
CH Rata-Rata
142,7



SD
64.29308



Tabel 2. Perhitungan Neraca Air Lahan Bulanan dengan Metode Thornwaite
Bulan
CH
ETP
CH-ETP
APWL
KAT
dKAT
ETA
Defisit
Surplus
run-off
Jan
450
150
300
-
225
0
150
0
300
182
Feb
300
132
168
-
225
0
132
0
168
175
Mar
275
130
145
-
225
0
130
0
145
160
Apr
200
125
75
-
225
0
125
0
75
118
Mei
155
135
20
-
225
0
135
0
20
69
Jun
112
140
-28
-28
199
-26
86
54
0
35
Jul
30
145
-115
-143
131
-68
-38
183
0
18
Agust
50
150
-100
-243
103
-28
22
128
0
9
Sep
76
138
-62
-305
94
-9
67
71
0
5
Okt
137
140
-3
-308
93
-1
136
4
0
3
Nop
250
142
108
-
201
108
142
0
0
2
Des
326
175
151
-
225
24
175
0
127
64
total
2361
1702
-
-
-
-
1262
436
815
840
                                               
Diketahui : KL = 225 mm, TLP = 75 mm, AT = KL – TLP = 225 – 75 = 150

Kurva Perhitungan Neraca Air Lahan Bulanan dengan Metode Thornwaite
 


Keterangan :
CH    :  Curah Hujan (mm)
ETP  :  Evapotranspirasi Potensal (mm)
ETA  :  Evapotranspirasi Aktual (mm)

4.2.    Pembahasan
          Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap neraca air lahan dengan menggunakan Metode Thornwaite. Dimana data utama yang dibutuhkan dalam perhitungan ini adalah curah hujan dan nilai evapotranspirasi. Dilihat dari tabel (2) mengenai perhitungan neraca air lahan, jumlah air yang tersedia di lahan mencapai 2361 mm dengan jumlah defisit 436 mm, evapotranspirasi aktual sebesar 1262 mm, sehingga selama setahun terjadi surplus dan run-off  masing-masing sebesar 815 mm dan 840 mm.
Meskipun hujan terjadi pada setiap bulan mengikuti distribusi normal, tetapi pada bulan-bulan tertentu, yaitu bulan Juni sampai dengan Oktober mengalami defisit air dimana jumlah evapotranspirasi aktual melebihi jumlah curah hujan. Sehingga selama setahun tersebut terdapat 10 jumlah bulan basah  dan 2 bulan kering. Pada kondisi defisit ini kandungan air tanah pun mengalami penurunan seiring dengan berkurangnnya curah hujan dan air tanah dimanfaatkan untuk evapotranspirasi (ETA) maka apabila air tanah tidak disuplai oleh hujan akan mengalami defisit dan kondisi demikian disebut musim kemarau.
Pada peiode bulan Juni sampai dengan Oktober terjadi defisi air bahkan dari bulan Juli sampai dengan Agustus ketersediaan air berada di bawah titik layu permanen. Kondisi ini sangat tidak mendukung terhadap budidaya tanaman.     Setiap tahun berdasarkan neraca air lahan di atas, pada tabel (1), run-off  terjadi sepanjang tahun, namun besarnya tergantung pada curah hujan. Pada periode surplus dimana terjadinya bulan basah, run-off  , yaitu pada bulan Januari mencapai 182 mm dan terus turun hingga pada bulan Mei hanya mencapai 69 mm. Potensi ini dapat dimanfaatkan dengan pembuatan pemanenan air hujan sehingga pada saat terjadinya bulan kering, air tangkapan ini dapat dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan air.
          Hal ini sejalan dengan pendapat Salisbury (2006) terjadinya kekurangan atau kelebihan air akan berdampak buruk bagi tanaman dan lingkungan sekitar. Kelebihan air berupa run-off akan mengakibatkan terjadinya banjir dan tanah menjadi sangat jenuh yang akan mengganggu kesetimbangan air tanah, dan menurunkan tingkat aerasi tanah. Selain itu kekurangan air pun akan memberikan dampak besar bagi keberlangsungan tanaman yang sangat memerlukan air untuk proses fotosintesis.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1.    Kesimpulan
         Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, Surplus terjadi dalam jangka waktu bulan Januari hingga Mei sedangkan defisit terjadi dari bulan Juni hingga Oktober, pada bulan Juni hingga Oktober, seluruh air hujan mengalami evapotranspirasi karena CH < ETP, periode defisit perlu dilakukan penyiraman, neraca air bulanan pada grafik diatas surflus terjadi pada bulan Januari sampai bulan Mei.

 5.2.   Saran
          Saran saya dalam praktikum kali ini yaitu penjelasan mengenai perhitungan neraca air sebaiknya di dalami dengan baik agar mahasiswa paham tentang perhitungan neraca air yang baik dan dilakukan dengan hati–hati karena banyak faktor yang harus di hitung, untuk mendapatkan hasil yang baik, maka perhitungan dari masing-masing faktor perlu di perhatikan.























Tidak ada komentar:

Posting Komentar