PENGGUNAAN LAHAN KERING DI DAS LIMBOTO
PROVINSI GORONTALO UNTUK PERTANIAN
BERKELANJUTAN
Nurdin
Program
Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo, Jalan
Jenderal Sudirman No. 6, Kota Gorontalo 96122
Telp.
(0435) 821125, Faks. (0435) 821752, E-mail: ung@ung.ac.id
Diajukan:
23 Maret 2010; Diterima: 17 Februari 2011
ABSTRAK
Sungai (DAS) Limboto mempunyai lahan
kering yang sesuai untuk pengembangan pertanian seluas 37.049 ha, sedangkan
lahan datar sampai bergelombang yang potensial untuk pertanian 33.144 ha. Untuk
memanfaatkan
lahan kering tersebut,
dapat diterapkan beberapa strategi dan teknologi yang meliputi: 1) pengelolaan
sistem budi daya, yang mencakup pengelompokan tanaman dalam suatu bentang lahan
mengikuti kebutuhan air yang sama, penentuan pola tanam yang tepat, pemberian
mulsa dan bahan organik, pembuatan pemecah angin, dan penerapan sistem agroforestry,
2) pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya melalui penyuluhan, penyediaan
sarana dan prasarana produksi serta permodalan petani, pemberdayaan kelembagaan
petani dan penyuluh, serta penerapan sistem agribisnis, dan 3) implementasi
kebijakan yang berpihak kepada pertanian, yang meliputi pemberian subsidi kepada
petani di daerah hulu untuk melaksanakan konservasi lahan, pemberian subsidi
pajak kepada petani di daerah hulu, penetapan peraturan daerah yang berkaitan
dengan pengelolaan lahan berbasis konservasi, dan pengelolaan lahan dengan
sistem hak guna usaha (HGU). Hal lain yang terpenting dalam pemanfaatan lahan
kering adalah sinkronisasi dan koordinasi antarinstitusi pemerintah dengan
melibatkan petani untuk menghindari tumpang tindih kepentingan.
Kata kunci: Lahan kering, penggunaan
lahan, pertanian berkelanjutan, daerah aliran
sungai, Limboto, Gorontalo
1. Pendahuluan
Lahan merupakan salah
satu sumberdaya alam yang tidak terbaharui(unrenewable). Hampir semua
sektorpembangunan fisik membutuhkan lahan (Sitorus 1998). Notohadinegoro (2000)
menjelaskan, lahan kering adalah lahan yang berada di suatu wilayah yang
berkedudukan lebih tinggi yang diusahakan tanpa penggenangan air. Selanjutnya,
Rukmana (2001) menegaskan, lahan kering merupakan sebidang lahan yang dapat
digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan
biasanya bergantung pada air hujan. Sementara itu, Abdurachman et al. (2008)
mendefinisikan lahan kering sebagai salah
satu agroekosistem yang mempunyai potensi besar untuk usaha pertanian,
baik tanaman pangan, hortikultura (sayuran dan buah-buahan) maupun tanaman
tahunan dan peternakan. Minardi (2009) menyatakan, lahan kering umumnya selalu
dikaitkan dengan pengertian usaha tani bukan sawah yang dilakukan oleh masya
rakat di suatu daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu sebagai lahan atas atau
lahan yang terdapat di wilayah kering (kekurangan air) dan bergantung pada air
hujan.
Kebutuhan akan lahan terus meningkatsejalan dengan waktu,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dan pertambahan jumlah
penduduk. Tekanan kebutuhan penduduk terhadap lahan menyebabkan pemanfaatan
lahan melampaui daya dukung dan kemampuannya sehingga terjadi kelelahan tanah (soil
fatigue) dan kerusakan lahan (Husain et al. 2006). Menurut Idjudin
dan Marwanto (2008), salah satu penyebab ketimpangan pengelolaan lahan kering
adalah pertambahan jumlah penduduk sehingga mendorong petani untuk mengusahakan
lahan kering berlereng di DAS bagian hulu yang rentan erosi. Dangkal, dan
akifernya tergolong produktif sedang (Husain et al. 2006). Pada wilayah
yang relatif landai sampai berbukit banyak diusahakan tanaman pangan, terutama
jagung, dan perkebunan seperti kelapa. Melihat kondisi tersebut maka
pengelolaan lahan kering secara berkelanjutan di DAS Limboto perlu mendapat
perhatian. Hal ini sejalan dengan pernyataan Husain et al. (2006) bahwa
pengelolaan lahan yang tepat di kawasan DAS Limboto sangat penting dalam rangka
penyelamatan Danau Limboto dan pengendalian banjir di Kota Gorontalo.
Tulisan
ini mengulas potensi lahan kering di DAS Limboto dan status pemanfaatan lahan
kering saat ini. Diungkap pula permasalahan dan strategi pengelolaan lahan
kering di kawasan DAS tersebut.
2. Potensi
Lahan Kering di DAS Limbato
Pengembangan pertanian di lahan kering diharapkan memberi
kontribusi nyata dalam mewujudkan pertanian tangguh mengingat potensi dan luas
lahan yang jauh lebih besar daripada lahan sawah dan atau lahan gambut
(Subardja dan Sudarsono 2005). Selain itu, lahan kering sangat berpotensi untuk
pengembangan berbagai komoditas andalan dan memberikan sumbangan cukup besar
terhadap penyediaan pangan nasional (Badan Litbang Pertanian 1998, tidak
dipublikasikan). Berdasarkan Peta ReProot skala 1: 250.000 (1988), untuk
pertanian lahan kering, lahan yang sesuai didominasi oleh tanah Inceptisol,
Alfisol, dan Entisol. Hal ini didukung oleh laporan Puslittanak (1994) dalam
peta tanah tinjau skala 1 : 150.000, bahwa jenis tanah yang dominan di DAS
Limboto adalah Inceptisol (27.400 ha) dan Alfisol (43.849 ha) ( Tabel 1).
Tabel 1. Sebaran jenis tanah di DAS Limboto,
Provinsi Gorontalo.
|
Ordo
|
Luas
|
|
|
(ha)
|
(%)
|
|
|
Alfisol
Molisol
Vertisol
Entisol
Inceptisol
Danau
|
143.849
6.027
15.022
11.965
27.400
3.415
|
50.01
6.87
5.73
2.24
31.25
3.90
|
|
Jumlah
|
87.678
|
100
|
Sumber: Puslittanak (1994).
Berdasarkan sifat-sifat tanah, Ilahude et al. (2007)
melaporkan, DAS Limboto bagian Sub-DAS Biyonga memiliki tanah bertekstur
lempung berdebu, permeabilitas dan infiltrasi agak cepat, porositas tanah sedikit,
dan struktur tanah gumpal bersudut. Selain itu, kesuburan tanah rendah berdasarkan
nilai kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa, N tanah tersedia, P2O5
tersedia, K2O tersedia, dan C-organik yang dipadankan pada Kunci Status
Kesuburan Tanah (Puslittan 1983). Berbeda dengan DAS Limboto, Sitirus (1998)
melaporkan, bagian Sub-DAS Alo Pohu Isimu Utara memiliki kesuburan tanah yang
sedang menurut kriteria Puslittan (1983). Hal ini disebabkan oleh kadar N total
yang rendah, P tersedia cukup tinggi, K tersedia dan C-organik rendah, serta
KTK dan kejenuhan basa sangat tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa lahan
kering di DAS Limboto cukup potensial untuk pengembangan komoditas pertanian.
3. Permasalahan dan Strategi Pengelolaan Lahan Kering
DAS Limboto terletak
pada 0°38’−0°70’ LU dan 122°48’−123°00’ BT dengan elevasi 5 m hingga lebih dari
300 m dpl. DAS Limboto terdiri atas 23 anak sungai
yang bermuara di Danau
Limboto (Balitbangpedalda Provinsi Gorontalo 2004,
2006). Dari 23 sungai
yang mengalir ke Danau Limboto, hanya Sungai Biyonga
yang airnya mengalir
sepanjang tahun, padahal luas sub-DAS hanya 68 km2. Hal ini karena kondisi mata
air yang cukup baik dengan vegetasi hutan di daerah hulu. Sungai terbesar adalah
Alo-Molalahu dengan luas 348 km2 dan Pohu seluas 156 km2. Namun, kedua sungai
tersebut airnya tidak mengalir lagi pada musim kemarau karena mata airnya
terganggu akibat pembabatan hutan di daerah hulu (JICA Studi Team 2002). Daerah
tengah telah dikonversi untuk pertanian dan pemukiman sehingga pada musim hujan
sering terjadi banjir yang merusak lahan pertanian di sekitar bantaran sungai
sampai ke hamparan lahan di bawahnya (BPDAS 2004).
Kendala utama
pemanfaatan lahan kering untuk pertanian adalah tingkat produktivitasnya
rendah yang dicirikan
oleh reaksi tanah masam, miskin hara, bahan organik rendah, kandungan besi,
mangan, dan aluminium tinggi (melebihi batas toleransi tanaman), serta peka
erosi (Hidayat et al. 2000). Ilahude et al. (2007) melaporkan,
reaksi tanah (pH) lahan kering tergolong netral dengan kadar bahan organik
sedang, sedangkan kadar N, P2O5, dan K2O masing-masing sangat rendah, dan nilai
KTK sangat tinggi.
4. Permasalahan
Ekonomi, Sosial Dan Budaya
Mata pencaharian penduduk di DAS Limboto bagian hulu
masih didominasi oleh pertanian. Komoditas yang dominan diusahakan adalah
jagung, cabai, dan ubi kayu. Untuk sub sektor
perkebunan yang paling dominan adalah kelapa. Demikian pula untuk desa
lain, penduduknya juga dominan mengusahakan tanaman pangan Petani lahan kering
umumnya tergolong marginal dengan pendapatan dan pendidikan rendah dan
keterampilan terbatas, sehingga upaya konservasi lahan usaha taninya juga
terbatas (Kadekoh 2010). Hal ini
merupakan masalah klasik bagi petani di lahan kering sehingga memerlukan
penanganan yang optimal, terencana, dan berkelanjutan. Kehidupan masyarakat petani di wilayah DAS
Limboto sangat agamais dan dominan dipengaruhi oleh agama Islam. Budaya
“huyula” atau dalam pengertian umum gotong royong merupakan salah satu bentuk
kearifan lokal yang saat ini masih ada, walaupun mulai terkikis oleh perkembangan
zaman (Tolinggi 2010). Menurut Sunaryo dan Yoshi (2003), kearifan lokal
merupakan sekumpulan pengetahuan yang diciptakan oleh sekelompok masyarakat dari
generasi ke generasi yang hidup menyatu dan selaras dengan alam. Salah satu
kearifan lokal yang berkaitan dengan kegiatan pertanian adalah penentuan waktu
tanam yang didasarkan pada ilmu perbintangan yang dikenal dengan istilah
“panggoba” (Tolinggi 2010). Sejak zaman dahulu, budaya ini dipegang teguh oleh
petani. Namun seiring perubahan iklim mikro maupun global, panggoba mulai
ditinggalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar