Minggu, 20 Juli 2014

jurnal internasional



PENGGUNAAN LAHAN KERING DI DAS LIMBOTO
PROVINSI GORONTALO UNTUK PERTANIAN
BERKELANJUTAN

Nurdin
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman No. 6, Kota Gorontalo 96122
Telp. (0435) 821125, Faks. (0435) 821752, E-mail: ung@ung.ac.id
Diajukan: 23 Maret 2010; Diterima: 17 Februari 2011


ABSTRAK
            Sungai (DAS) Limboto mempunyai lahan kering yang sesuai untuk pengembangan pertanian seluas 37.049 ha, sedangkan lahan datar sampai bergelombang yang potensial untuk pertanian 33.144 ha. Untuk memanfaatkan
lahan kering tersebut, dapat diterapkan beberapa strategi dan teknologi yang meliputi: 1) pengelolaan sistem budi daya, yang mencakup pengelompokan tanaman dalam suatu bentang lahan mengikuti kebutuhan air yang sama, penentuan pola tanam yang tepat, pemberian mulsa dan bahan organik, pembuatan pemecah angin, dan penerapan sistem agroforestry, 2) pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya melalui penyuluhan, penyediaan sarana dan prasarana produksi serta permodalan petani, pemberdayaan kelembagaan petani dan penyuluh, serta penerapan sistem agribisnis, dan 3) implementasi kebijakan yang berpihak kepada pertanian, yang meliputi pemberian subsidi kepada petani di daerah hulu untuk melaksanakan konservasi lahan, pemberian subsidi pajak kepada petani di daerah hulu, penetapan peraturan daerah yang berkaitan dengan pengelolaan lahan berbasis konservasi, dan pengelolaan lahan dengan sistem hak guna usaha (HGU). Hal lain yang terpenting dalam pemanfaatan lahan kering adalah sinkronisasi dan koordinasi antarinstitusi pemerintah dengan melibatkan petani untuk menghindari tumpang tindih kepentingan.

Kata kunci: Lahan kering, penggunaan lahan, pertanian berkelanjutan, daerah                  aliran sungai, Limboto, Gorontalo


1.       Pendahuluan   
            Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tidak terbaharui(unrenewable). Hampir semua sektorpembangunan fisik membutuhkan lahan (Sitorus 1998). Notohadinegoro (2000) menjelaskan, lahan kering adalah lahan yang berada di suatu wilayah yang berkedudukan lebih tinggi yang diusahakan tanpa penggenangan air. Selanjutnya, Rukmana (2001) menegaskan, lahan kering merupakan sebidang lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya bergantung pada air hujan. Sementara itu, Abdurachman et al. (2008) mendefinisikan lahan kering sebagai salah  satu agroekosistem yang mempunyai potensi besar untuk usaha pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura (sayuran dan buah-buahan) maupun tanaman tahunan dan peternakan. Minardi (2009) menyatakan, lahan kering umumnya selalu dikaitkan dengan pengertian usaha tani bukan sawah yang dilakukan oleh masya rakat di suatu daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu sebagai lahan atas atau lahan yang terdapat di wilayah kering (kekurangan air) dan bergantung pada air hujan.
            Kebutuhan akan lahan terus meningkatsejalan dengan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dan pertambahan jumlah penduduk. Tekanan kebutuhan penduduk terhadap lahan menyebabkan pemanfaatan lahan melampaui daya dukung dan kemampuannya sehingga terjadi kelelahan tanah (soil fatigue) dan kerusakan lahan (Husain et al. 2006). Menurut Idjudin dan Marwanto (2008), salah satu penyebab ketimpangan pengelolaan lahan kering adalah pertambahan jumlah penduduk sehingga mendorong petani untuk mengusahakan lahan kering berlereng di DAS bagian hulu yang rentan erosi. Dangkal, dan akifernya tergolong produktif sedang (Husain et al. 2006). Pada wilayah yang relatif landai sampai berbukit banyak diusahakan tanaman pangan, terutama jagung, dan perkebunan seperti kelapa. Melihat kondisi tersebut maka pengelolaan lahan kering secara berkelanjutan di DAS Limboto perlu mendapat perhatian. Hal ini sejalan dengan pernyataan Husain et al. (2006) bahwa pengelolaan lahan yang tepat di kawasan DAS Limboto sangat penting dalam rangka penyelamatan Danau Limboto dan pengendalian banjir di Kota Gorontalo.
            Tulisan ini mengulas potensi lahan kering di DAS Limboto dan status pemanfaatan lahan kering saat ini. Diungkap pula permasalahan dan strategi pengelolaan lahan kering di kawasan DAS tersebut.
2.       Potensi Lahan Kering di DAS Limbato

            Pengembangan pertanian di lahan kering diharapkan memberi kontribusi nyata dalam mewujudkan pertanian tangguh mengingat potensi dan luas lahan yang jauh lebih besar daripada lahan sawah dan atau lahan gambut (Subardja dan Sudarsono 2005). Selain itu, lahan kering sangat berpotensi untuk pengembangan berbagai komoditas andalan dan memberikan sumbangan cukup besar terhadap penyediaan pangan nasional (Badan Litbang Pertanian 1998, tidak dipublikasikan). Berdasarkan Peta ReProot skala 1: 250.000 (1988), untuk pertanian lahan kering, lahan yang sesuai didominasi oleh tanah Inceptisol, Alfisol, dan Entisol. Hal ini didukung oleh laporan Puslittanak (1994) dalam peta tanah tinjau skala 1 : 150.000, bahwa jenis tanah yang dominan di DAS Limboto adalah Inceptisol (27.400 ha) dan Alfisol (43.849 ha) ( Tabel 1).
                Tabel 1. Sebaran jenis tanah di DAS Limboto, Provinsi Gorontalo.
Ordo
Luas
(ha)
(%)
Alfisol
Molisol
Vertisol
Entisol
Inceptisol
Danau
143.849
6.027
15.022
11.965
27.400
3.415

50.01
6.87
5.73
2.24
31.25
3.90
Jumlah
87.678
100
Sumber: Puslittanak (1994).

            Berdasarkan sifat-sifat tanah, Ilahude et al. (2007) melaporkan, DAS Limboto bagian Sub-DAS Biyonga memiliki tanah bertekstur lempung berdebu, permeabilitas dan infiltrasi agak cepat, porositas tanah sedikit, dan struktur tanah gumpal bersudut. Selain itu, kesuburan tanah rendah berdasarkan nilai kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa, N tanah tersedia, P2O5 tersedia, K2O tersedia, dan C-organik yang dipadankan pada Kunci Status Kesuburan Tanah (Puslittan 1983). Berbeda dengan DAS Limboto, Sitirus (1998) melaporkan, bagian Sub-DAS Alo Pohu Isimu Utara memiliki kesuburan tanah yang sedang menurut kriteria Puslittan (1983). Hal ini disebabkan oleh kadar N total yang rendah, P tersedia cukup tinggi, K tersedia dan C-organik rendah, serta KTK dan kejenuhan basa sangat tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa lahan kering di DAS Limboto cukup potensial untuk pengembangan komoditas pertanian.


3.       Permasalahan dan Strategi Pengelolaan  Lahan Kering

DAS Limboto terletak pada 0°38’−0°70’ LU dan 122°48’−123°00’ BT dengan elevasi 5 m hingga lebih dari 300 m dpl. DAS Limboto terdiri atas 23 anak sungai
yang bermuara di Danau Limboto (Balitbangpedalda Provinsi Gorontalo 2004,
2006). Dari 23 sungai yang mengalir ke Danau Limboto, hanya Sungai Biyonga
yang airnya mengalir sepanjang tahun, padahal luas sub-DAS hanya 68 km2. Hal ini karena kondisi mata air yang cukup baik dengan vegetasi hutan di daerah hulu. Sungai terbesar adalah Alo-Molalahu dengan luas 348 km2 dan Pohu seluas 156 km2. Namun, kedua sungai tersebut airnya tidak mengalir lagi pada musim kemarau karena mata airnya terganggu akibat pembabatan hutan di daerah hulu (JICA Studi Team 2002). Daerah tengah telah dikonversi untuk pertanian dan pemukiman sehingga pada musim hujan sering terjadi banjir yang merusak lahan pertanian di sekitar bantaran sungai sampai ke hamparan lahan di bawahnya (BPDAS 2004).
Kendala utama pemanfaatan lahan kering untuk pertanian adalah tingkat produktivitasnya
rendah yang dicirikan oleh reaksi tanah masam, miskin hara, bahan organik rendah, kandungan besi, mangan, dan aluminium tinggi (melebihi batas toleransi tanaman), serta peka erosi (Hidayat et al. 2000). Ilahude et al. (2007) melaporkan, reaksi tanah (pH) lahan kering tergolong netral dengan kadar bahan organik sedang, sedangkan kadar N, P2O5, dan K2O masing-masing sangat rendah, dan nilai KTK sangat tinggi.

4.       Permasalahan Ekonomi, Sosial Dan Budaya
            Mata pencaharian penduduk di DAS Limboto bagian hulu masih didominasi oleh pertanian. Komoditas yang dominan diusahakan adalah jagung, cabai, dan ubi kayu. Untuk sub sektor  perkebunan yang paling dominan adalah kelapa. Demikian pula untuk desa lain, penduduknya juga dominan mengusahakan tanaman pangan Petani lahan kering umumnya tergolong marginal dengan pendapatan dan pendidikan rendah dan keterampilan terbatas, sehingga upaya konservasi lahan usaha taninya juga terbatas (Kadekoh 2010).     Hal ini merupakan masalah klasik bagi petani di lahan kering sehingga memerlukan penanganan yang optimal, terencana, dan berkelanjutan.  Kehidupan masyarakat petani di wilayah DAS Limboto sangat agamais dan dominan dipengaruhi oleh agama Islam. Budaya “huyula” atau dalam pengertian umum gotong royong merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang saat ini masih ada, walaupun mulai terkikis oleh perkembangan zaman (Tolinggi 2010). Menurut Sunaryo dan Yoshi (2003), kearifan lokal merupakan sekumpulan pengetahuan yang diciptakan oleh sekelompok masyarakat dari generasi ke generasi yang hidup menyatu dan selaras dengan alam. Salah satu kearifan lokal yang berkaitan dengan kegiatan pertanian adalah penentuan waktu tanam yang didasarkan pada ilmu perbintangan yang dikenal dengan istilah “panggoba” (Tolinggi 2010). Sejak zaman dahulu, budaya ini dipegang teguh oleh petani. Namun seiring perubahan iklim mikro maupun global, panggoba mulai ditinggalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar